Nasib GTT di Tahun 2010

NASIB GURU TIDAK TETAP (GTT) DI TAHUN 2010

Oleh: SOFIA ZAHRO, S. Pd.

Saya tertarik dan simpati pada beberapa tulisan saudara Augustinus Simanjuntak, dosen Hukum Bisnis dan Aspek Hukum Progran Manajemen Fakultas Ekonomi UK Petra yang mengangkat tema dan peduli tentang nasib Guru Tidak Tetap (GTT) dengan system kontrak. Dua tulisan yang pernah say a baca adalah:  GTT MENURUT PRESPEKTIF HUKUM, Jawa Pos, Rabu 15 Agustus 2007, dan PRESPEKTIF HUKUM DAN EKONOMI UMK 2008, Jawa Pos, Sabtu 29 Desember 2007.

Kesimpulan yang dapat  diambil bahwa dalam dunia pendidikan yang bersifat terus menerus dan membutuhkan waktu dan proses yang sangat lama seharusnya tidak terdapat istilah Guru Tidak Tetap (GTT) dengan system kontrak pada satuan pendidikan pemerintah maupun masyarakat. Masyarakat menurut UU RI No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen adalah kelompok Warga Negara Indonesia non pemerintah yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan. Istilah pekerja kontrak (termasuk guru kontrak) tidak dikenal dalam UU No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan (UU Tenaker), yang ada adalah istilah perjanjian kerja, baik untuk waktu tertentu maupun tak tertentu. Guru Tidak Tetap (GTT) dengan system kontrak memang dibutuhkan, tetapi karena keahlian khusus, yaitu guru yang sewaktu-waktu bisa disewa oleh sekolah untuk member materi-materi khusus dengan waktu tertentu pula. Jadi Guru Tidak Tetap (GTT) dengan system kontrak tidak berlaku untuk guru mata pelajaran yang sifatnya terus menerus dan membutuhkan proses waktu yang sangat lama.

Pasal 59 ayat 7 UU Tenaker menyatakan bahwa status Pekerja Tidak Tetap (waktu tertentu) tidak boleh diterapkan untuk pekerjaan yang sifatnya terus menerus. Pekerja Tidak Tetap (tenaga kontrak) hanya boleh dipekerjakan pada jenis-jenis pekerjaan yang sifatnya borongan atau musiman. Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah proses pendidikan adalah jenis pekerjaan yang sifatnya borongan atau musiman?…

Ini berarti bahwa system kerja kontrak tidak bisa sembarangan diterapkan untuk semua bidang pekerjaan. Dengan demikian untuk guru Mata Pelajaran (bukan guru karena keahlian khusus) tidak berlaku istilah Guru Tidak Tetap (GTT) dengan system kontrak, apalagi guru yang sudah mengabdi bertahun-tahun pada satuan pendidikan pemerintah maupun masyarakat.

Kesalahan presepsi dari satuan pendidikan pemerintah maupun masyarakat inilah yang mengakibatkan seolah-olah hukum tidak berlaku untuk melindungi hak-hak para Guru Tidak Tetap (GTT) dengan system kontrak. Padahal menurut UU RI No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dikatakan bahwa guru berhak mendapatkan perlindungan hokum, perlindungan profesi serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.

Dampak lain yang sering diterima Guru Tidak Tetap (GTT) dengan system kontrak adalah Putusan Hubungan Kerja (PHK) yang sewaktu-waktu dapat diberikan oleh satuan pendidikan pemerintah maupun masyarakat, padahal saat terikat Perjanjian Kerja, satuan pendidikan pemerintah maupun masyarakat menerbitkan Surat Keputusan (SK) pengangkatan GTT. Sangat ironi memang, disamping adanya SK pengangkatan juga terjadi kebebasan dari pihak sekolah untuk menghentikan kontrak kerja atau Putusan Hubungan Kerja (PHK).

Tahun 2010 baru saja kita jelang, menengaok ke belakang, banyak sekali meninggalkan kenangan buruk bagi para Guru Tidak Tetap (GTT) dengan system kontrak. Marak terjadi Putusan Hubungan Kerja (PHK) dimana-mana, baik itu satuan pendidikan pemerintah maupun masyarakat. Tidak tanggung-tanggung Putusan Hubungan Kerja (PHK) yang terjadi adalah bersifat sepihak, yaitu dari pihak sekolah yang merasa sudah tidak membutuhkan karena alas an macam-macam, dan parahnya lagi ternyata ada guru pengganti dari guru yang terkena Putusan Hubungan Kerja (PHK).

Menurut UU RI No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 30 dikatakan: (1) Guru  dapat diberhentikan dengan hormat dari jabatannya sebagai guru karena:

a)      Meninggal dunia

b)      Mencapai batas usia pensiun

c)      Atas permintaan sendiri

d)      Sakit jasmani atau rohani sehingga tidak dapat melaksanakan tugas secara terus menerus selama 12 (dua belas) bulan

e)      Berakhirnya perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama antara guru dan penyelenggara pendidikan.

(2) Guru diberhentikan tidak dengan hormat dari jabatan sebagai guru karena:

a)   melanggar sumpah dan janji jabatan

b)   Melanggar perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama

c)    Melalaikan kewajiban dalam menjalankan tugas selama 1 (satu) bulan atau lebih             secara terus menerus.

Yang menjadi pertanyaan sekarang, Putusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak yang dilakukan satuan pendidikan pemerintah maupun masyarakat dengan alasan sudah tidak dibutuhkan lagi, masuk kategori pemberhentian yang mana?…

Jelas dikatakan bahwa guru mata pelajaran tidak layak digunakan system kontrak karena bukan merupakan kebutuhan untuk waktu tertentu/ borongan, musiman, tetapi kebutuhan waktu tak tertentu, terus menerus dan membutuhkan proses yang sangat lama. Pemberhentian guru sebagaimana dimaksud pasal 30 yang menjelaskan berakhirnya perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama antara guru dan penyelenggara pendidikan lebih ditujukan pada Guru Tidak Tetap (GTT) dengan keahlian khusus dalam waktu tertentu dan bukan untuk guru mata pelajaran dalam waktu yang tak tertentu.

Di sisi lain, UU RI No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, menjawab segala permasalahan diatas. Pasal 41 dijelaskan bahwa Guru wajib menjadi anggota Organisasi Profesi. Organisasi profesi yang dimaksud berfungsi untuk memajukan profesi, meningkatkan kompetensi, karier, wawasan pendidikan, perlindungan profesi, kesejahteraan dan pengabdian kepada masyarakat. Pada pasal 42 disebutkan juga bahwa organisasi profesi guru juga mempunyai kewenangan untuk memberikan bantuan hukum kepada guru juga memberikan perlindungan profesi guru. Sampai detik ini masih banyak sekali guru (terutama guru yang bekerja pada satuan pendidikan masyarakat/ guru swasta)  belum mengetahui isi dari UU RI No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, juga belum mengerti tentang keberadaan organisasi profesi apalagi untuk menjadi anggota, padahal salah satu tujuan organisasi profesi adalah memperjuangkan hak-hak para guru.

Dengan demikian terjawab sudah, bahwa satuan pendidikan pemerintah maupun masyarakat yang bertindak semena-mena mengadakan Putusan Hubungan Kerja (PHK) secara sepihak bertentangan dengan UU RI No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Memasuki tahun 2010 ini mudah-mudahan menjadikan angin segar bagi para Guru Tidak Tetap (GTT) baik di satuan pendidikan pemerintah maupun masyarakat dengan system kontrak, untuk menjadikan lebih baik lagi disertai dengan harapan baru yang lebih baik daripada sebelumnya. Semoga!…

(Tulisan ini dibuat pada Desember 2007 dan disempurnakan pada Januari 2010).

34 Tanggapan to “Nasib GTT di Tahun 2010”

  1. dinda Says:

    Numpang curhat boleh khan.Aku adalah seorang GTT di salah satu Sekolah Negeri. Aku dah sukwan 5 th lebih tapi nasib ku gak ada peningkatan. Malah kadang-kadang aku n temen-temen GTT merasa nasib kami amat sangat merana,gimana tidak satu bulan gaji amat sangat minim, disekolah diperlakukan bagaikan penjaga sekolah + tenaga administrasi sekolah yang diperintah kesana kesini tanpa uang transpor pengganti bensin. Orang bilang berakit-rakit kehulu berenang-renang ketepian,hidup perlu pengorbanan tu sih bener tapi HAM kan juga berlaku di dunia seperti sekarang. bener gak ? da gak yang senasib dengan ku ?

    • zahrosofie Says:

      yang sabar ya… memang sudah ada UU guru dan dosen, semoga ke depannya bisa membantu nasib GTT.
      tapi bukankah peranan dan kopetensi antara guru PN sama GTT itu sama, yang membedakan hanya status dan ujung-ujungnya gaji perbulan, perbedaannya memang jauh, tapi kalau perlakuan… masa sampai seperti itu????
      kalau kita lebih profesional, bukankah penjaga sekolah dan TU sudah ada job disknya masing-masing???

  2. ichan Says:

    permasalahannya sekarang adalah “apakah Undang undang itu dibuat untuk dilaksanakan dngn sebaik2xnya atau sebatas ngayem ayemi pr GTT aja tnpa realisasi yg Jelas.
    wallahua’lam.
    smoga mereka bisa bertanggung jawab dan melaksanakan apa yg tlah meraka Tulis. amin.

  3. RonNy Says:

    ya … aku juga terpaksa komentar nih … sebenarnya pemerintah sudah berusaha seadil – adilnya. cuma, banyak oknum yang mempersulit kita. contoh saja, pas penerimaan tes cpnsd lewat umum, kita melihat secercah harapan. tapi pada kenyataannya, berakhir dengan kekecewaan karena perekrutan itu diwarnai money politik atau sogok yang sulit diberantas dikarenakan pelakunya adalah sesama pencari NIP yang kebetulan punya uang lebih buat memberli SK. nah … kalau diantara kita terdapat kecurangan, tes CPNS hanya akan menjadi formalitas saja.

  4. Firman Dedy H Says:

    Saya sangant setuju dengan artikel ini. Sebenarnya Pemerintah harus mencabut Undang2 Guru dan Dosen untuk diganti dengan yang baru yang harus membedakan mana disebut Guru atau bukan. Karena GTT jelas tidak ada sama sekali defininya.

    • zahrosofie Says:

      klo isi dari UU guru dan dosen seh sudah mewakili kepentingan para guru baik negeri maupun swasta… hanya saja praktek di lapangan masih blom ada gregetx… terutama untuk guru2 yg masih GTT…

  5. arya Says:

    ane juga kadang ngrasa jadi warga kelas empat, gak dianggep tapi yen da apa apa yang mereka gak bisa/malas tangani selalu kami yangt di”andalkan”. dah ngajar meh 10 tahun tapi da anak baru lulus yang ketrima discol,CPNS. otomatis gaji dah berlipat dari kami…..kadang sifat manusiawi muncul juga.jamn kami dulu perekrutan emang gak semudah sekarang,yen saiki kon test rebutan kursi ma adik adik yang masih seger dari kuliahan ya jujur akeh kalahe. emang belum rejeki.

    • zahrosofie Says:

      itu berarti secara tidak langsung mereka ngakuin klo panjenengan punya kopetensi… n mereka menunjukkan kebodohan mereka dg cara bermalas2an n melemparkan tanggung jawab kepada para GTT… aq memaklumi klo akhirx muncul sifat manusiawi karena ketidak adilan nie… yg sabar ya… :)

  6. rozztebe Says:

    Allah bersama-sama orang yang sabarrrrrrrrrrrrrrrrrrr dan berusahaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

  7. aguz Says:

    ea…qta kudu sabaaaaarr…tunggu sampe ada kabaaaaarrr….klo gak ada kabar bisa bubaaaaarrr….nasib nasib

  8. Mr.Z Says:

    kata sabar sering mereka dengar bagi yg udah puluhan tahun mnjadi GTT… apa kurang sabar.

  9. rozztebe Says:

    usahanya mana gan, jangan cuma sabar!!!!!
    kalo aku sengaja jd GTT soalnya kabur dari tanggung jawab yang lebih gede, tapi dah saatnya aku gerilya, kalo berhasil tak kasih tips2 nya, bneraaaaaaannnn, tunggu akyuuuuu yawwwwwww

  10. rozztebe Says:

    orang akan berpikir seperti apa yang kita pikirkan terhadap diri kita!!!!!!
    kalo kita berpikir kita bisa, maka secara otomatis tindakan kita mencari jalan keluarnya dan jangan pernah berpikir tidak bisa meski hanya 1%. OK

  11. wahyu dwi p Says:

    dinda Berkata:
    Januari 22, 2010 pukul 9:28 am | Balas
    Numpang curhat boleh khan.Aku adalah seorang GTT di salah satu Sekolah Negeri. Aku dah sukwan 5 th lebih tapi nasib ku gak ada peningkatan. Malah kadang-kadang aku n temen-temen GTT merasa nasib kami amat sangat merana,gimana tidak satu bulan gaji amat sangat minim, disekolah diperlakukan bagaikan penjaga sekolah + tenaga administrasi sekolah yang diperintah kesana kesini tanpa uang transpor pengganti bensin. Orang bilang berakit-rakit kehulu berenang-renang ketepian,hidup perlu pengorbanan tu sih bener tapi HAM kan juga berlaku di dunia seperti sekarang. bener gak ? da gak yang senasib dengan ku ?

    untuk ibu dinda,

    saya juga senasib dengan ibu,
    saya sudah bosan jadi gtt,
    makanya saya ke sekolah hanya untuk status jadi guru saja,
    urusan cari makan saya tidak mengandalkan dari sekolah,
    saya kerjakan pekerjaan yang saya bisa di luar jam sekolah,
    hasilnya lumayan,
    untuk teman-teman yang masih senasib dengan saya, yaitu GTT,
    klo dah bosan seperti saya, cari uang di luar jam sekolah, tentu saja
    carinya yang halal-halal, klo dah benar-benar mapan dan duitnya banyak, kita bikin usaha sendiri, misal warung makan, warung bakso, es, soto, cendol, dll. fotokopi, atau yang lainnya yang penting halal, lalu kita keluar aja jd GTT, lha wong sudah ngajar bertahun-tahun untuk daftar jd pns saja harus lewat jalur umum, lalu kita kalah dengan yang berduit, lha kapan jadi pns-nya. sabar memang baik, tapi urusan perut kita harus bertindak, tidak hanya sabar-sabar, keburu kiamat.
    lha wong kita kerja kadang lebih berat dari yang pns, kok dapatnya jauh lebih kecil dari yang PNS, itu namanya tidak manusiawi.
    pendidikan akan maju jika guru-gurunya sejahtera.
    klo hanya meningkatkan mutu layanan pendidikan tanpa memperhatikan nasib guru-gurunya, jangan harap mutu pendidikan akan semakin baik, omong kosong itu.

    • zahrosofie Says:

      sebenarx pemerintah udah memikirkan nasib guru melalui sertifikasi meski gak berlaku untuk guru GTT di skul negeri… tapi guru yg dibawah naungan yayasan di skul swasta kan bisa… jadi mulailah melirik tuk ngajar di swasta juga…
      tapi yg namax kecurangan ntu ya ada dmana2… pemerintah sudah memperhatikan nasib guru… ternyata carut marut sertifikasi juga banyak kecurangan disana sini…
      bener pak Wahyu… jalan lain adalah qta kembangkan jiwa intrepeunership (wiraswata mandiri) untuk kebutuhan yg kata pak Wahyu gak bisa sabar… hehehe
      salut buat pak Wahyu… sukses selalu ya n semoga kiprah panjenengan ditiru oleh temen2 qta… :)

  12. susilo Says:

    yah……smua kok sama, silahkan aja disini kita bisa curahkan unegz-unegz mbil usaha cari solusi. Da yanx ksh opsi cari uang diluar dll. Klo boleh usul kita kerja di sekolah yang gak negeri trs kita besarkan biar mereka tau kita tu sama seperti mereka atau kita bisa lebih, gimana anak bangsa!. Yah ni cuma untuk membesarkan hati kita sambil nunggu. Akan tetapi saya ucapkan terima kasih, saya merasa tidak sendiri pun dalam keadaan yang kurang beruntung ini. Terima kasih blog ini sangat membuat mata saya lebih terbuka. Matur Nuwun.

  13. Erhoney Says:

    Hidup adalah pilihan…jgn sesali apa yg qt pilih…jgn sesali apa yg tlah qt jalani…dgn keikhlasan & kejujuran…”Tuhan tdk akan membiarkan qt mati kelaparan…….hanya krn kita seorang GTT”

  14. smk n 4 smg Says:

    kita ga bkalan mati,tapi ga bkal sejahtera, suatu saat kalo kita sakit ga bakalan ada tunjangan untuk kita palagi untuk kluarga kita, semoga para pemimpin didinas dan departemen pendidikan membaca ini, ya allah berilah hambamu petunjuk

  15. Rachman Says:

    Aku jadi GTT di sekolah negeri SMP favorit di malangsudah 20 TH belum diangkat, ikut test sudah kedaluarsa bayangkan HR ngajar kalau dapat 20 Jam ya 400 ribu per bulan. Apalagi kalau ada Peg. Neg Baru yang masuk mengurangi jumlah jam sampai2 dapat kurang dari 10 jam bisa dibayangkan hidup di zaman sekarang!!!!! sabar saja teman teman senasib rejeki ada yang ngatur>>>>>> mudah mudahan sehat-sehat saja kita jangan sampai sakit karna menderita obat mahal biaya rumahsakit apalagi kita mau bayar apa?????????

  16. KTB Says:

    klo guru swasta gemana? apa gak ada yang memperhatikan? PGRI bagaimana? sejauh mana pembelaan dan perlindingan terhadap para Guru?, apa PGRI hanya untuk Guru Negeri ?

  17. jasmine Says:

    n q jg pngn curhat n….., q kan GTT br n, bru bulan februari 2012 q mulai ngajar, tp q n tmn q sesama GTT yg udh 2 th mengabdi tidak dimasukkan pada laporan bulan. ktny dengan alasan sesudah th 2005 sekolah tdk bleh menerima GTT lg. tp kn kenyataannya GTT msh sangat d butuhkan krn kurannya guru. klo sprt itu qt kn tidak punya bukti lo qt t udh mengabdi bertahun2….., trus nasib qt kedepannya gimana…??? semakin tidak jelas kan…..,p lg gk d pengakuan dr pemerintah.datanya aj gk ad.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: