Archive for Maret, 2010

GEJALA OPTIK DI ATMOSFER

Maret 30, 2010

Setelah hujan turun biasanya terjadi gejala optic yang dapat dilihat di angkasa seperti pelangi, halo dan aurora.

1. PELANGI

Apabila setelah turun hujan, udara kembali cerah dan sinar matahari dapat sampai di permukaan bumi, sering kita lihat adanya pelangi, dengan berbagai busur warna di udara yang lebih kita kenal dengan sebutan MEJIKUHIBINIU yaitu: merah, jingga (orange), kuning, hijau, biru, nila (indigo) dan ungu (violet).

Pelangi terjadi karena sinar matahari jatuh pada titik-titik air hujan, yang mengakibatkan berkas sinar matahari tersebut dibiaskan dan dipantulkan menjadi spectrum warna (spectrum radiasi) oleh titik air hujan.

Tampak pada gambar:

2. HALO

Halo adalah lingkaran sinar putih disekeliling bulan atau matahari, namun yang sering kita lihat adalah halo bulan karena pada waktu malam langit terihat gelap. Halo sangat jelas terlihat ketika bulan bersinar terang setelah sore herinya terjadi hujan.

Halo terjadi karena sinar bulan menembus Kristal-kristal es yang terdapat pada awan yang tinggi (6.000 – 12.000 m diatas permukaan air laut) seperti awan Cirrus, Cirrostratus dan Cirrocumulus, sehingga sinar bulan dibiaskan oleh Kristal-kristal as tersebut.

Tampak pada gambar:

Halo Matahari

Halo Bulan

3. AURORA

Yaitu cahaya yang bersinar pada malam hari di langit sekitar wilayah lingkaran kutub (cahaya kutub). Aurora yang bersinar di kutub utara dinamakan AURORA BOREALIS, sedangkan yang bersinar di kutub selatan dinamakan AURORA AUSTRALIS.

Proses aurora terjadi di lapisan  IONOSFERA (termosfera bagian bawah) sebagai akibat pengobaran (pemijaran) ion-ion yang bermuatan listrik oleh partikel-partikel radiasi matahari yang memiliki energy sangat tinggi, sehingga dari bumi tampak sebagai cahaya kutub.

Tampak pada gambar:

Aurora Borealis

Aurora Australis

AWAN

Maret 30, 2010

Awan adalah masa udara di permukaan bumi yang mengandung uap air, karena terjadi evapotranspirasi (penguapan yang terjadi karena pemanasan sinar matahari terhadap daerah perairan dan tumbuhan, bergerak naik ke atas). Karena kenaikan ketinggian ini suhunya mengalami penurunan.

Sampai ketinggian tertentu, akibat penurunan suhu ini, nilai tekanan uap menjadi maksimum sama dengan nilai tekanan uap yang ada (actual), sehingga nilai kelembaban relatifnya mencapai 100%, dan udara tersebut menjadi JENUH.


Akibatnya terjadilah proses kondensasi atau pengembunan dimana uap air yang dikandung oleh udara tersebut berubah menjadi titik-titik air. Kumpulan titik air itu dinamakan AWAN. Sedangkan ketinggian dimana uap air berkondensasi disebut BATAS TINGGI KONDENSASI.

Dilihat dari bentuknya:

1. AWAN CIRRUS

Awan yang berbentuk halus seperti kapas

2. AWAN CUMMULUS

Awan yang berbentuk bergumpal-gumpal menyerupai bulu domba

3. AWAN STRATUS

Awan yang berbentuk berlapis-lapis

Nama-nama awan yang lainnya merupakan kombinasi dari ketiga jenis awan tersebut. Misalkan awan cirrostratus, yaitu awan cirrus yang berlapis-lapis. Awan stratocumulus, yaitu awan cumulus yang berlapis-lapis.

contoh awan cirrostratus

contoh awan stratocummulus

Jika suatu jenis awan banyak mengandung uap air sehingga besar kemungkinan menimbulkan hujan maka dalam penamaannya ditambah dengan kata NIMBO  atau  NIMBUS, seperti cumulonimbus dan nimbostratus.

Berdasarkan ketinggiannya:

1. AWAN TINGGI

Awan yang terletak pada ketinggian  antara 6.000 – 12.000 meter diatas permukaan air laut. Contoh:  cirrus, cirrostratus dan cirrocumulus

2. AWAN PERTENGAHAN (MEDIUM)

Awan yang terletak pada ketinggian antara 2.000 – 6.000 meter diatas permukaan air laut. Contoh: altostratus dan altocumulus

contoh gambar altocummulus

3. AWAN RENDAH

Awan yang terletak pada ketinggian kurang dari 2.000 meter diatas permukaan air laut. Contoh: cumulus, stratus, cumulonimbus, nimbostratus dan stratocumulus.

4. KABUT atau FOG

Apabila awan (kumpulan titik-titik air) ini sangat dekat dengan permukaan bumi.

Skala Foto Udara

Maret 29, 2010

Merupakan pernyataan perbandingan jarak dua buah titik di foto dengan jarak sebenarnya di lapangan (di permukaan bumi)

Skala foto dapat ditulis dengan beberapa cara, yaitu:

  1. System pecahan

Misalnya 1/50.000, artinya jika jarak dua buah titik di peta adalah 1 satuan panjang, maka jarak sebenarnya adalah 50.000 satuan panjang.

  1. System perbandingan

Misalnya 1: 50.000

  1. System padanan unit

Misalnya 1 mm = 25 m, artinya jarak 1 milimeter di foto sama dengan 25 meter di lapangan

Ukuran  skala yang besar dapat memberikan kesan kenampakan obyek-obyek yang ada di permukaan bumi dengan lebih jelas dan rinci.

Rumus 1:

S = Skala foto = Jarak di foto / Jarak di lapangan

= d / D

Untuk dapat menggunakan rumus ini terlebih dahulu kita harus mampu menggunakan system perhitungan skala pada peta, sebab antara skala peta dan skala foto sangat berhubungan erat.

Contoh:

Pada sebuah peta topografi yang berskala 1 : 25.000, jarak kota A dan B adalah 55,3 mm, sedangkan pada foto udara jarak kota A dan B adalah 106,5 mm. hitung skala foto…

Jawab:

Jarak AB di peta = 55,3 mm, maka jarak AB sebenarnya (di lapangan) adalah:

1 : 25.000 = 55,3 : AB

AB                =  (25.000 X 55,3) / 1

=1.382.500 mm atau 1.382,5 m.

Sedangkan jarak AB di foto = 106,5 mm, maka skala foto adalah…

S = d / D

= 106,5 / 1.382.500

= 1 / 12.981,22

=  atau 1: 12.981,22 atau 1: 12.981

Petunjuk perhitungan:

Karena skala menunjukkan perbandingan satu banding …, maka 106,5 : 106,5 = 1, selanjutnya 1.382,500 juga dibagi 106,5 = 12.981,22, Sehingga hasilnya 1 : 12.981,22

Rumus 2:

S = Skala foto = panjang focus kamera/ tinggi pesawat saat terbang

= f/H

Keterangan:

Focus adalah jarak dari letak film negatifke lensa (stasiun pemotretan)

Contoh:

Pada pesawat yang terbang dengan ketinggian sekitar 2.000 meter terpasang kamera dengan panjang jarak focus 20 cm, maka foto-foto yang berhasil dibuat akan memiliki skala…

S = 20 cm / 2.000 m

= 20 cm / 200.000 cm

= 1 /10.000 atau 1 : 10.000

Petunjuk perhitungan:

Karena skala menunjukkan satu banding…, maka 20 : 20 = 1, selanjutnya 200.000 : 20 = 10.000, sehingga 1 : 10.000

Gresik Daerah Pesisir dan Industri

Maret 29, 2010

Fenomena bentang alam dan bentang budaya di desa Lumpur kecamatan Gresik.

Bentang alam adalah fenomena atau kenampakan alam yang terjadi dengan sendirinya dan tanpa ada campur tangan dari manusia, seperti laut, sungai, pantai dan hutan mangrove.

Bentang budaya adalah bentang atau kenampakan  dimana terjadinya karena ada campur tangan manusia, seperti pelabuhan, jembatan, perahu, pasar, pabrik-pabrik dan sebagainya yang berhubungan dengan budaya.

Kita tahu bahwa Gresik adalah kota industri.  Dua industri besar di Gresik adalah  Semen Gresik dan Petrokomia. Juga ada beberapa kawasan industri seperti KIG dan industri yang lainnya.

diambil gambar tanggal 5 Maret 2010

lokasi: desa Lumpur kecamatan Gresik.

Kehidupan Nelayan

Maret 29, 2010

beginilah aktifitas sosial ekonomi sehari-hari nelayan di desa Lumpur kecamatan Gresik. gambar diambil pada tanggal 5 Maret 2010 pada saat siswa-siswi kelas XI is-1 dan XI is-3 SMAN 1 Manyar tahun ajaran 2009-2010 mengadakan studi lapangan.

lokasi: desa Lumpur kecamatan Gresik.

Studi Lapangan SMAN 1 MANYAR

Maret 27, 2010

tanggal 5 Maret 2010 diadakan studi lapangan mata pelajaran geografi kelas XI semester genap, KD: pesisir dan Laut dengan waktu 8 X 45 menit, karena hari Jum’at maka studi dimulai jam 06.45 – 11.00 WIB. studi lapangan ini di ikuti oleh kelas Xl IS 1 dan XI IS 3. Daerah tujuan adalah pantai di desa Lumpur kecamatan Gresik dan desa Manyarsidorukun kecamatan Manyar.

Instrumen lapangan:

PEMERINTAH KABUPATEN GRESIK

DINAS PENDIDIKAN

SMA NEGERI 1 MANYAR

Jl. Kayu Raya Pongangan Indah  Manyar  Gresik  Telp/Fax : 031-3950560

http://www.smanemagres.net e-mail : smanemagresik@yahoo.com

INSTRUMEN OBSERVASI LAPANGAN GEOGRAFI PESISIR

TAHUN PELAJARAN 2009 – 2010

Mata Pelajaran      : GEOGRAFI

Hari / Tanggal    : Jum’at/ 5 Maret 2010

K e l a s                 : XI IPS1, XI IPS3

W a k t u            : 06.45 – 11.oo WIB

PENGERTIAN PESISIR:………………………………

LETAK KABUPATEN GRESIK:

a. LETAK ASTRONOMIS KAB GRESIK: ………………………………

b. LETAK GEOGRAFIS KAB. GRESIK: ………………………………

c. PETA KAB. GRESIK ; ……………………

KEADAAN UMUM KABUPATEN GRESIK:……………………………

KABUPATEN GRESIK SEBAGAI DAERAH PESISIR MELIPUTI WILAYAH KECAMATAN:…………………………………………………………

KEADAAN PENDUDUK GRESIK PESISIR:

a.  MATA PENCAHARIAN PENDUDUK: …………………………

b. POLA PEMUKIMAN PENDUDUK: ………………

c. PUSAT PELAYANAN DAN EKONOMI  PENDUDUK ; …………

d. PERSEBARAN PENDIDIKAN: …………………

e. SOSIAL BUDAYA PENDUDUK          ; …………

f. SENTRA PRODUKSI PANGAN: ……………

INDUSTRI: …………………

OBYEK DAN DAYA TARIK WISATA DI KABUPATEN GRESIK TERUTAMA DI WILAYAH PESISIR: ………

a. WISATA BUDAYA: ……………………

b. WISATA ALAM: ………

c. WISATA MINAT KHUSUS: ……………….

KONDISI FISIK PESISIR KECAMATAN GRESIK: ……………………

a. BENTANG ALAM: ………………

b. BENTANG BUDAYA : ……………………………

KONDISI FISIK PESISIR KECAMATAN MANYAR: ………………

a. BENTANG ALAM: …………………

b. BENTANG BUDAYA : ……………………

KETERANGAN:

  • PESERTA ADALAH SISWA-SISWI KELAS XI IS 1 DAN  3
  • OBYEK OBSERVASI LAPANGAN DI DUA DAERAH YAITU  PANTAI DI DESA LUMPUR KECAMATAN GRESIK DAN  LINGKUNGAN PESISIR DESA SDORUKUN KECAMATAN MANYAR
  • JADWAL KEGIATAN:

06.45  – 07.00              : PERSIAPAN

07.00 -07.30        : MENUJU LOKASI PANTAI     DESA LUMPUR

07.30 – 08.30     :LOKASI PANTAI DESA LUMPUR GRESIK

08.30 -09.00: MENUJU LOKASI LINGKUNGAN PESISIR DESA SIDORUKUN MANYAR

09.00 – 10.30: LOKASI LINGKUNGAN PESISIR DESA SIDORUKUN MANYAR

10.30 – 10.45: KEMBALI KE SEKOLAH

  • PERALATAN YANG HARUS DIBAWA:

a. INDIVIDU: PERLENGKAPAN TULIS

b. KELOMPOK: KAMERA

  • SELAMA PERJALANAN HARUS TAAT BERLALU LINTAS
  • MENJAGA NAMA BAIK SEKOLAH
  • MENGGUNAKAN SERAGAM OLAH RAGA
  • BERBUDAYA LINGKUNGAN DIMANAPUN BERADA
  • SELAMAT BEKERJA DAN SEMOGA SUKSES!

Pengarahan di lapangan (pantai di desa Lumpur)

sekilas penjelasan instrumen

pencemaran sampah di pantai

mencari data lapangan (pantai di desa Lumpur)

wawancara dengan nelayan

mengabadikan aktifitas nelayan dikali Bengawan

(lingkungan pesisir kecamatan Manyar)

wawancara dengan penduduk tentang budidaya kepiting

(lingkungan pesisir kecamatan Manyar)

mejeng ah!…..

Akar Cakar Ayam

Maret 26, 2010

Akar cakar ayam yang ada pada jenis jenis pohon yang terdapat pada hutan mangrove berbentuk akar-akar yang keluar/ muncul ke permukaan tanah ( terlihat saat laut surut) ataupun pada permukaan air apabila pohon tersebut berada di dekat pinggiran sungai maupun pantai daerah pesisir. jadi fenomena yang terjadi di sekitar pohon tersebut terdapat akar-akar yang naik. fenomenanya kalau akar tersebut sangat rapat akan sulit diinjak oleh kaki manusia.

contoh hutan mangrove yang mempunyai jenis akar cakar ayam adalah pohon api-api (Avicennia). pohon ini merupakan tumbuhan pioner di daerah pasang surut. jadi akarnya tumbuh dari bawah tanah dan muncul ke permukaan tanah/ air. Akarnya kuat dan tumbuh di tempat yang basah atau berlumpur.

selain menahan longsor dan abrasi, daunnya juga bisa dimanfaatkan  sebagai sayuran. di daerah Gresik daunnya dimanfaatkan sebagai sayuran pelengkap lontong Roomo, makanan khas yang ada di kec. Manyar, Gresik daerah pesisir. jenis-jenisnya antara lain, api-api putih (Avicennia Marina), api-api daun lebar (Avicennia officinalis), api-api hitam (Avicennia Albar) dan Avicennia Rumhiara.

lokasi: desa Manyarsidorukun kec Manyar, Gresik daerah pesisir.

BINGKAI HATI

Maret 26, 2010

12

BINGKAI HATI

Dalam diamku…

Sepenggal  rindu tak terungkap…

Mengiring bayang…

Sisi hati paling dalam…

Andai ku bisa terbang…

Kan ku buang rindu di awan…

Bertebaran…

Ku harap turun bersama hujan…

Dalam benakku …

Ku rajut tatanan esok…

Ku harus melangkah…

Asa kian membara…

Ingin sekali ku sibak…

Makna sebuah kata bijak…

“Agar bulan yang bercermin telaga…

Tak lagi nampak berduka”…

Dalam pedihku…

Kupaling muka…

ku tutup telinga seraya berteriak…

“Pergiii……………………!”

Sampai aku lelah…

Kuamati bingkai yang retak…

Aku tercengang…

“Dia turun bersama hujan…”

(Sofie ‘2010)

Morfologi Patahan & Lipatan

Maret 19, 2010

 

TEKTONISME

Pengantar:

Tektonisme atau tenaga tektonik adalah tenaga yang bekerja dari dalam bumi dengan arah vertical / tegak maupun horizontal/ lateral/ mendatar yang mengakibatkan perubahan lokasi atau letak lapisan-lapisan batuan yang membentuk muka bumi.

Tenaga tektonisme ini dikelompokkan atas tektonik patahan (faulting process) dan tektonik lipatan (folded process)

Tenaga tektonik dibedakan atas aktifitas epirogenesis (aktifitas penurunan atau kenaikan benua) dan aktifitas orogenesis (aktifitas pembentukan pegunungan)

1. MORFOLOGI  PATAHAN

Adalah bentukan-bentukan alam di muka bumi sebagai akibat adanya proses pematahan (faulting process) pada lapisan batuan pembentuk kulit bumi (litosfera). Proses pematahan lapisan batuan pembentuk litosfera disebut SESAR.

a. GRABEN/ SLENK

Adalah patahan dengan arah vertical, dimana posisi daerah tersebut lebih rendah dari daerah sekitarnya,  dikarenakan patahan/ sesar  yang mengalami penurunan.

b. HORST

Adalah patahan dengan arah vertical, dimana posisi daerah tersebut lebih tinggi dari daerah sekitarnya,  dikarenakan patahan/ sesar yang mengalami kenaikan.

c. FLEKSUUR

Adalah patahan dengan arah vertical, dimana posisi daerah tersebut mengalami penurunan atau kenaikan sebagian saja.

d. DEKSTRAL

Adalah patahan dengan arah horizontal, dimana posisi tanah yang ada di depan kita bergeser kearah kanan.

e. SINISTRAL

Adalah patahan dengan arah horizontal, dimana posisi tanah yang ada di depan kita bergeser kea rah kiri.

2. MORFOLOGI LIPATAN

Terjadi karena adanya tenaga endogen yang arahnya lateral/ horizontal dari dua arah yang berhadapan (saling mendekat), sehingga lapisan-lapisan batuan di daerah tersebut terlipat dan membentuk puncak lipatan (antiklin) dan lembah lipatan (sinklin)

Merubah Skala

Maret 19, 2010

MEMPERBESAR DAN MEMPERKECIL PETA

Dalam kehidupan sehari hari, adakalanya peta yang kita miliki ukurannya diperbesar atau diperkecil untuk tujuan-tujuan tertentu. Sebagai contoh, agar kenampakan obyek di permukaan bumi yang sedang  kita amati tergambar lebih jelas maka kita perbesar dari ukuran semula . oleh karena peta tersebut  kita perbesar maka skalanya pun berubah. Dalam memperbesar atau memperkecil ukuran peta ini berlaku ketentuan:

Bila peta diperbesar n kali, maka penyebut dari skala harus dibagi dengan bilangan n.

Contoh:

  1. Peta yang berukuran 30 X 20 cm dengan skala 1 : 100.000 diperbesar 2 kali, maka peta tersebut menjadi berukuran 60 X 40 cm dengan skala 1 : (100.000/2) = 1 : 50.000
  2. Contoh dengan gambar:

Bila peta diperkecil n kali, maka penyebut dari skala peta harus dikali dengan bilangan n.

Contoh:

  1. Pada peta yang berukuran 90 X 90 cm dengan skala 1 : 100.000 diperkecil 3 kali, maka peta tersebut menjadi berukuran 30 X 30 cm dengan skala 1 : (100.000 X 3) = 1 : 300.000
  2. Contoh dengan gambar:

Untuk mengubah skala peta, baik memperbesar maupun memperkecil, dapat digunakan berbagai alat bantu. Alat yang sederhana berupa PANTOGRAF, sedangkan yang modern seperti  FOTO COPY, KAMERA dan KOMPUTER.