Peta Topografi

PETA TOPOGRAFI SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN GEOGRAFI

Oleh: SOFIA ZAHRO, S. Pd.

Berbicara mengenai peranan (role) sebagai seorang guru, hanya bisa dilihat dari kemampuan akademik yang dimilikinya, disamping kemampuan intelektualnya untuk bisa mendidik siswanya. Guru dihimbau untuk tidak berkecil hati mengukir prestasi, berkiprah menyumbangkan segala daya dan upaya kepada bangsa dan Negara dengan bertujuan untuk memajukan pendidikan di Indonesia, melalui sekolahnya masing-masing.

Dalam tulisan ini disajikan sebuah hasil karya berupa peta topografi tiga dimensi yang terpampang di dinding kantor SMPN 1 Prigen, yang merupakan asset Daerah kabupaten Pasuruan. Peta Topografi tersebut adalah proyek swadaya yang saya bina dan saya bimbing sewaktu saya mengajar di SMPN 1 Prigen Kabupaten Pasuruan, periode tahun pelajaran 1994 -1995. Dana diperoleh dari iuran siswa kelas dua  pada periode tahun tersebut.

Latar belakang pembuatan peta topografi tiga dimensi dikarenakan pada setiap Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pelajaran geografi mengenai peta topografi, siswa mengalami kesulitan membayangkan bentuk nyata peta topografi dari teori yang ada, dengan keadaan yang sebenarnya. Semula akan saya buat suatu media atau alat pembelajaran berupa peta topografi tiga dimensi dalam bentuk kecil yang sederhana yang bisa dipegang dan berpindah dari satu kelas ke kelas yang lain. Tetapi kemudian timbul pemikiran dan ide bahwa alangkah lebih baik kalau membuat peta Topografi tiga dimensi untuk wilayah kecamatan prigen dimana sekolah tersebut berada, mengingat kecamatan prigen bentangan alamnya berupa pegunungan.  Selain berguna untuk siswa sebagai media atau alat pembelajaran, juga berguna bagi orang lain (umum) untuk mengetahui bagaimana bentuk miniature/ tiga dimensi kecamatan prigen yang sebenarnya dipermukaan bumi, baik bentuk reliefnya yang terdiri dari beberapa garis kontur maupun batas-batas kecamatan prigen dengan kecamatan lain yang ada di Kabupaten Pasuruan. Pemikiran saya tersebut ternyata disetujui dan mendapat sambutan positif dari Kepala Sekolah, dengan catatan dana swadaya dari siswa-siswi sendiri.

Peta topografi adalah peta yang didalamnya berisi garis-garis kontur dengan ketinggian berkelipatan sesuai dengan interval konturnya (Ci). Misalnya Ci dengan 100 mdpl (meter diatas permukaan air laut). Setiap garis kontur menghubungkan titik yang mempunyai ketinggian yang sama. Contoh yang paling sederhana bisa dilihat pada gambar I dan II:

Gambar I adalah peta topografi yang berisi garis-garis kontur dengan ketinggian berkelipatan 100mdpl, sedangkan gambar II adalah peta topografi yang diproyeksikan dari samping. Peta topografi yang terpasang di SMPN 1 Prigen kabupaten Pasuruan adalah peta topografi pada bidang datar yang ditransformasikan dalam  bentuk peta topografi timbul/ tiga dimensi/ miniature. Daerah kecamatan Prigen merupakan daerah pegunungan, maka pada peta topografi tiga dimensi tersebut kelihatan seperti kulit bumi beserta relief wilayah kecamatan prigen, diambil/ diiris dan dipisahkan dengan wilayah kecamatan yang lain di Kabupaten Pasuruan dan yang ditonjolkan memang khusus Kecamatan Prigen, dengan bentuk yang unik dan menarik. Ada potongan pinggirnya tinggi, sedang dan ada pula yang rendah. Pewarnaan juga lengkap untuk peta topografi Kecamatan Prigen. Pewarnaan disesuaikan dengan ketinggian tempat diatas permukaan air laut. Terdapat tiga gradasi warna, warna hijau merupakan simbul dari dataran rendah, warna coklat kekuningan merupakan symbol dari dataran tinggi dan warna coklat tua merupakan symbol dari gunung/ pegunungan.

Proses pembuatan peta topografi tiga dimensi tersebut diawali dengan penjelasan materi (teori) kepada siswa, kemudian siswa mempraktekkan pembuatannya. Pekerjaan dilakukan oleh team yang merupakan wakil dari masing-masing kelas dua, tetapi semua siswa mengikuti jalannya proses pembuatan peta topografi tiga dimensi tersebut. Waktu pengerjaan adalah jam istirahat, pulang sekolah, kalau ada jam kosong dan tidak ada tugas dari guru yang bersangkutan. Mereka terlihat sangat antusias dalam mengerjakannya dan sepertinya ingin segera tahu bagaimana hasilnya.

Langkah pertama pembuatan peta topografi tiga dimensi adalah meminjam peta topografi milik laboratoriun jurusan Geografi, fakultas FPIPS IKIP Negeri Surabaya, kemudian dicopy khusus untuk wilayah kecamatan prigen, kemudian hasil copy tersebut diperbesar sesuai keinginan beserta perubahan perhitungan skalanya.

Dari hasil copy yang terakhir kemudian di draft/ dijiplak diatas kertas kalkir pada tiap-tiap garis konturnya dan ditransfer pada lembaran triplek yang berisi hanya satu garis kontur. Satu triplek adalah lapisan dari satu garis kontur, demikian seterusnya sampai lapisan garis kontur pada triplek selesai dibuat. Proses selanjutnya penggergajian masing-masing triplek sesuai garis konturnya, dilanjutkan proses penyusunan tripek sesuai dengan kontur atau ketinggian yang disesuaikan pada peta topografi. Dimulai dari kontur atau ketinggian terendah berada di bawah dan yang terakhir adalah kontur dengan ketinggian tertinggi berada paling atas. Pengerjaan dari tahap ke tahap ini harus dikerjakan dengan penuh ketelitian. Proses pemasangan triplek bisa dilihat pada gambar III:

Setelah penyusunan dan penempelan triplek pada tiap-tiap konturnya selesai, tinggal proses finishing yaitu pewarnaan, membuat garis tepi, judul, arah mata angin, batas kecamatan, skala peta, legenda, titik koordinat lintang bujurnya serta angka ketinggian pada tiap-tiap konturnya, contoh 100mdpl, keatasnya lagi 200mdpl, keatasnya lagi 300mdpl dan seterusnya. Proses finishing dapat dilihat pada gambar IV:

Sekilas orang melihat peta topografi kecamatan prigen tersebut menyerupai miniature Kecamatan  Prigen. Setelah peta topografi tersebut dibuat, ternyata siswa lebih mudah memahami bagaimana bentuk peta topografi yang hanya berisi garis-garis kontur pada bidang datar kemudian ditransformasikan dalam bentuk peta topografi tiga dimensi berdasarkan ketinggian sesuai dengan garis konturnya. Peta tersebut dapat dilihat pada gambar V:

Dari satu contoh pengalaman ini mudah-mudahan dapat memberikan motivasi bagi guru-guru yang lain bahwa prestasi itu bisa diraih oleh siapa saja yang mempunyai niat, minat, kemampuan dan kecakapan lebih. Potensi itu bisa digali sesuai dengan kemampuan akademik dan intelektualnya sebagai guru.

Menuntut ilmu tidak harus belajar teori di dalam kelas, tapi guru harus bisa menjembatani antara ilmu pengetahuan dan kenyataan yang ada serta memperkenalkan fenomena-fenomena yang ada di sekitar kita kepada siswa, tentu saja berkaitan dengan ilmu yang kita miliki, sehingga lebih mempermudah siswa untuk memahaminya. Silahkan mencoba dan berprestasi!…

(penulis pernah mengajar di SMPN 1 Prigen Kabupaten Pasuruan, sejak tahun 1993 – 1996)

3 Tanggapan to “Peta Topografi”

  1. farid Says:

    bu,, klo bisa di tambahkan soal soal prediksi unas di blog ini,,, agar bisa menjadi bahan pembelajaran…

  2. tsutarman tea Says:

    tolong lebih banyak gambar donng

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: