PEMBELAJARAN GEOGRAFI

PEMBELAJARAN GEOGRAFI

(sharing untuk ibu-bapak guru geografi)

 

Tulisan ini menelaah tentang sistem pembelajaran geografi dengan melihat komponen input (peserta didik), komponen proses (kegiatan belajar mengajar) dan komponen output (lulusan) pada tingkat sekolah dasar dan sekolah lanjutan. Kualifikasi peserta didik dimulai dari telaah singkat sebelum memasuki pendidikan formal wajib belajar 9 tahun. Bagaimana kemampuan berpikir secara geografis dan beberapa contohnya diberikan untuk mengantarkan tahapan pembelajaran geografi saat menjadi peserta pendidikan formal di sekolah. Dengan demikian para guru dapat memperoleh gambaran kondisi awal dari para peserta didik untuk selanjutnya menjadi titik awal dalam memberikan pelajaran yang lebih lengkap.

Apa yang ingin dicapai?

Secara intrinsik, setiap anak usia dini pada umumnya telah memiliki kemampuan berpikir geografis walaupun masih dalam tataran yang paling sederhana. Hal ini tercermin dari kemampuan mereka untuk mengenali suatu obyek tertentu dan mengetahui lokasi suatu obyek seperti letak kamar tidur, kamar mandi, ruang tamu, dapur yang berada di dalam rumah dan atau lokasi rumah temannya yang berada di sekitar rumahnya atau lokasi pasar, sekolah atau lainnya. Mereka juga mampu menunjukkan jarak dan arah dari setiap obyek tersebut, walaupun masih bersifat kualitatif. Di samping itu mereka sudah mulai mampu membandingkan mana yang jaraknya lebih dekat atau lebih jauh, mana yang letaknya di sebelah kiri atau di sebelah kanan, mana yang lebih tinggi dan lebih rendah, jika dibandingkan dari obyek yang lain.

Pada saat anak mulai menjadi peserta didik di sekolah maka sejak saat itulah pembelajaran geografi secara formal di mulai. Kemampuan dasar berpikir geografis mulai diasah secara sistematis dan berkelanjutan dalam proses belajar. Semakin tinggi tingkatan kelas yang diikuti maka semakin banyak jenis obyek yang dikenali dan semakin tinggi tingkat kerumitan pengetahuannya. Proses pembelajaran geografi tidaklah berdiri sendiri karena membutuhkan kemampuan berpikir logis yang diperoleh dari belajar matematika dan membutuhkan dasar dasar pengetahuan lainnya seperti pengetahuan eksakta (fisika, biologi, kimia) dan pengetahuan sosial. Berbagai pengetahuan tersebut berguna untuk membantu belajar geografi dalam membuat definisi atau merumuskan arti tentang suatu obyek dan memperkaya dalam penggunaan metode atau cara memahami suatu obyek secara lebih luas dan mendalam.

Pemahaman suatu obyek dimulai dari mengenali benda atau peristiwa yang dialami peserta didik dalam kehidupan sehari-hari di rumah, di lingkungan sekitarnya, di lingkungan sekolah dan tempat tempat lainnya. Tempat tempat lainnya yang berkaitan dengan lingkungan alam seperti laut, pantai, gunung, sungai, udara, air, tanah dan lainnya serta lingkungan sosial seperti sesama teman sekolah, para guru, orang lain yang dikenal sehari-hari, yang kemudian disebut sebagai masyarakat atau penduduk. Setiap orang selalu berhubungan dengan orang lain yang disebut interaksi sosial. Tempat untuk melakukan interaksi sosial disebut dengan sarana sosial seperti pasar, sekolah, rumah sakit, kantor dan lainnya serta sarana jalan, telekomunikasi dan lainnya. Penduduk biasanya memanfaatkan bidang tanah untuk melakukan segala bentuk aktivitasnya sehari-hari. Rumah, sekolah, gedung kantor, jalan raya, pasar dan lainnya dibuat di atas sebidang tanah. Sementara dalam sebidang tanah terdapat lapisan tanah/batuan (litosfera), lapisan air (hidrosfera) dan lapisan udara (atmosfera).

Pada usia sekolah 9 tahun wajib belajar (SD dan SLTP) para murid sudah memiliki kemampuan mengetahui kondisi lingkungan lokal secara baik. Seiring dengan itu, pengetahuan tentang kondisi lingkungan yang lebih luas seperti wilayah kabupaten, wilayah provinsi, wilayah Indonesia bahkan dunia sudah harus disampaikan. Tingkat pengetahuan yang diberikan tentu masih bersifat umum. Utamanya adalah bahwa konsepsi berpikir geografis tetap menjadi acuan dasar pada saat proses pembelajaran berbagai materi ajar. Sebagai konsekuensi dari hal tersebut maka “peta” sebagai wahana menyampaikan pemikiran geografis untuk menjelaskan tentang “what” dan “where” haruslah tersedia dan digunakan dengan tepat.

Berdasarkan penelusuran materi ajar bidang Geografi yang tercantum dalam buku ajar IPS kelas VII – IX (dari beberapa penerbit), kedalaman dan keluasan materi Geografi dinilai sudah memadai. Pengetahuan tentang topik topik Bentuk dan Lapisan Muka Bumi dan Aktivitas Manusia sebagai mahluk sosial serta tinjauan dari sudut sejarahnya, disertai pengetahuan tentang Peta, adalah merupakan materi dasar pengetahuan Geografi yang diperlukan oleh peserta didik pada tingkatan ini. Pengetahuan tentang negara negara lain mulai dari negara tetangga sampai dengan skala dunia menjadi bekal bagi para murid dalam belajar Geografi pada jenjang pendidikan SLTA.

Materi ajar Geografi kelas X-XII pada tingkat SLTA dari beberapa penerbit yang telah diakui oleh BSNP melalui Standar Isi (SI), Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SK-KD) merupakan perluasan dan pendalaman dari materi ajar di SLTP serta penambahan materi Sistem Informasi Geografi dan Penginderaan Jauh. Para guru sebaiknya memberikan pengetahuan tambahan tentang SIG dan PJ melalui praktek sederhana karena saat ini teknologi SIG dan PJ sudah menjadi sarana standar dalam belajar Geografi.

Kompetensi yang diharapkan.

Dalam proses pembelajaran umumnya para guru ingin mengetahui apakah materi ajar yang diberikan telah diketahui dengan baik oleh para peserta didik. Kegiatan evaluasi dilakukan secara bertahap untuk memperoleh informasi sejauh mana para murid telah memahami apa yang telah diberikan guru. Hasil evaluasi setiap tahap kemudian menjadi tolok ukur evaluasi akhir yang biasanya dilakukan pada saat ujian akhir semester. Secara sistematis materi evaluasi disusun untuk mengetahui bagaimana kompetensi akhir para murid dalam mempelajari pengetahuan geografi.

Setelah mempelajari berbagai materi ajar Geografi maka lulusan SLTP dan SLTA diharapkan memiliki kompetensi sbb : (1) mengenal dengan baik berbagai obyek geografis, (2) mendeskripsikan dengan baik dan mengkomunikasikan kepada orang lain tentang gejala geografis, (3) menyusun peta (secara sederhana) tentang suatu obyek tertentu dengan cara atau teknik yang benar. Kompetensi nomor 3 ini adalah kemampuan siswa untuk menarik garis dalam bidang datar yang menunjukkan adanya perbedaan dan persamaan suatu obyek dalam ruang. Semua itu tentu saja dikaitkan dengan konsep konsep geografinya seperti lokasi tempat, jarak, arah, interaksi dan interrelasinya. Pada tingkatan SLTP mungkin minimal sampai pada antar wilayah kabupaten dalam provinsi, sedang tingkat SLTA minimal sampai pada antar provinsi dalam wilayah nasional dan memiliki kemampuan menerapkan teori sederhana (rumus, model, pendekatan). Sasarannya adalah para siswa mampu mengenal dengan baik karakteristik wilayah geografis lokal dan nasional sehingga mampu mendorong rasa nasionalisme karena memiliki sense of belonging  atau rasa memiliki. Selanjutnya, memiliki rasa tanggungjwab untuk memelihara dan membuat lebih baik lagi kondisi wilayah sebagai tempat dimana kita hidup bermasyarakat.

Para guru dapat melihat apakah kompetensi minimal telah dimiliki oleh para peserta didik. Indikator yang dapat digunakan adalah dengan melihat distribusi nilai akhir ujian dikaitkan dengan nilai minimal yang telah ditentukan sebagai KKM (kriteria kompetensi minimal). Saya pikir ibu dan bapak guru geografi lulusan Pendidikan Geografi lebih banyak mengetahui tentang teori pedagogi dan mengaplikasikan dalam proses belajar mengajar.

Contoh kasus

Berbagai kasus aktual sebaiknya diangkat menjadi bahan diskusi dalam kelas atau tugas mandiri. Beberapa contoh kasus yang menarik misalnya tentang banjir, gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, longsor dan lainnya jika dikaitkan dengan gejala alam. Kasus dari gejala sosial misalnya terjadinya kriminalitas, tawuran, pemukiman kumuh, kemacetan lalulintas, dan sebagainya. Contoh kasus interaksi manusia-lingkungan adalah penyebaran penyakit, kebakaran hutan dan pemukiman, kerusakan tanah, konflik pertanahan, lokasi pariwisata dan seterusnya.

Gejala geografis yang lebih luas dapat dikategorikan paling tidak dalam 4 kelompok yaitu (1) masalah perbatasan antar negara (2) ketimpangan ekonomi (3) globalisasi (4) penyebaran penyakit menular yang mematikan (HIV/AIDS, H5N1 atau H1N1 dan lainnya) secara global. Para guru dapat mengembangkan sendiri contoh contoh yang lebih sederhana yang terjadi di wilayah masing masing, sebagai turunan dari isu global geografi tersebut. Sebagai catatan, materi tentang Isu Global Geografi dapat dibaca dari buku karangan Peter Haggett (2001) dengan judul “Geography. A Global Synthesis” terbitan Prentice Hall England.

Jika mengacu pada tulisan Haggett (2001) maka masalah geografis di Indonesia dengan mudah dapat diidentifikasi seperti konflik perbatasan antara Indonesia dan Malaysia (kasus Ambalat), konflik perbatasan antar kabupaten atau antar wilayah adat atau antar jenis penggunaan tanah. Di Indonesia masih banyak ditemukan gejala ketimpangan ekonomi yaitu adanya pemukiman kumuh di wilayah perkotaan, fenomena di wilayah desa-kota (urban fringe) dan lainnya. Kerusakan lingkungan terjadi di mana mana akibat pengaruh globalisasi termasuk kejadian banjir dan longsor atau kebakaran hutan. Gejala lain yang dijumpai adalah adanya wilayah penyebaran penyakit menular yang semakin meluas. Sementara ada kekawatiran tentang mewabahnya penyakit menular antar manusia yang mematikan seperti Flu Meksiko (H1N1) akan terjadi di Indonesia. Masih banyak lagi masalah geografis yang dapat diinventarisasi yang terjadi di Indonesia.

Penutup

Saya mengharapkan media komunikasi  IGI-net@yahoogroups.com  ini dapat dimanfaatkan oleh ibu-bapak guru geografi di seluruh Indonesia (ada 524 kabupaten/kota) secara efektif sehingga dapat menghasilkan pembelajaran Geografi yang sama dengan contoh kasus keunikan gejala geografis di masing masing daerah. Dengan demikian pengetahuan geografi diperoleh siswa secara memadai untuk dapat menjadi bekal melanjutkan pendidikan pada tingkat yang lebih tinggi. Kualitas intake yang sama akan merupakan input yang baik bagi program studi Geografi atau Pendidikan Geografi di Perguruan Tinggi.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi ibu dan bapak guru Geografi.

Depok. Januari 2012

Djoko Harmantyo, staf pengajar Departemen Geografi FMIPA Universitas Indonesia.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: