Archive for September, 2013

Keping Sayap Temaram

September 25, 2013

sofie64

Seiring desiran angin malam ini..
Lamat-lamat ku dengar suaramu..
Membisikkan nada rindu..
Menggugah ingatan di hati..

Saat pertama aku pergi..
Aku sisihkan suara di hati..
Seiring gejolak warna merona..
Perih, menggigil tinggalkan pesona..

Renta senja guratan malam..
Semakin enggan bertemu bulan..
aku terpejam ditengah alam..
Sekelebat bayangan meronta enggan..

Sofie, September 2013

Kemacetan yang merasuk di jiwa……

September 17, 2013

Selasa 17 September 2013.

Seperti biasa perjalanan panjang yang aku tempuh dalam perjalanan jarak pendek. bagaimana tidak, pada saat dunia industri sudah masuk dalam suatu wilayah, maka banyak dampak yang terjadi baik itu bersifat positif maupun negatif.

Dampak positif salah satunya adalah meningkatkan taraf perekonomian masyarakat, yang akhirnya banyak juga peluang kerja yang bisa dinikmati oleh sebagian besar masyarakat manyar.

Tapi hari ini, aku merasakan kelelahan yang luar biasa, meskipun hal ini sudah setiap hari aku lalui. perjalanan antara Pongangan sampai Manyar tugu aku tempuh hampir satu jam. berangkat jam 06.10 WIB sampai di sekolah jam 07.10 WIB. alur jalan dikuasai oleh kendaraan roda dua maupun roda empat yang berasal dari arah barat. Sampai-sampai yang dari arah timur bingung diapit oleh kendaraan dari arah barat. Belum lagi banyaknya truk-truk yang berhenti di kanan kiri jalan. Hadeeeeh!

Entahlah…
apa karena aku lagi bad mood atau bagaimana. yang jelas pagi ini aku merasakan suasana yang kurang sempurna..

IKA GEO UNESA part 3

September 10, 2013

kegiatan Ika Geo Unesa yang ketiga kalinya ini menjadikan Merapi, Parang Tritis, gunung kidul dan sekitarnya sebagai obyek penelitian dari berbagai guru geografi, alumni Geo Unesa yang ada di Gresik, Tuban, Lamongan, Bojonegoro, Kediri, Nganjuk, Jombang, Mojokerto, Sidoarjo dan Surabaya. masing-masing Kabupaten diwakili oleh dua sekolah yang diundang oleh Ika Geo Unesa. kebetulan untuk kabupaten Gresik di wakili oleh MA Yasmu Manyar (sekolah yang mengirimku) dan SMAN 1 Cerme.

keseluruhan alumni berjumlah 26 orang dengan 5 dosen pembimbing. ketua Ika Geo Unesa adalah pak Bambang (mas Bram) sedangkan ketua jurusan geografi saat ini adalah pak Agus Sutedjo dengan sekjurnya ibu Ita. Tidak lupa juga dosen senior geo, bapak Kus Priyanto yang paling dekat dengan mahasiswa n alumni, terutama informasi-informasi di dunia mayanya yang selalu ditunggu-tunggu. juga pak PC (sebutan sayang dari mahasiswa) dengan joke-jokenya yang luar biasa… 🙂

Perlu diketahui bahwa kegiatan study lapangan ini adalah yang ke tiga (terakhir) dari kepengurusan Ika Geo Unesa periode 2011-2015, yang didanai dari PHKI (Program Hibah Kompetisi berbasis Institusi) yang berakhir di tahun 2013. Untuk lebih mengenal Ika Geo Unesa, maka disini perlu dicantumkan beberapa nama pengurus periode 2011-2015 sebagai berikut:

SUSUNAN ORGANISASI
PENGURUS PUSAT IKA GEO UNESA
PERIODE MASA BAKTI 2011 – 2015

Ketua Umum : Bambang Sigit Widodo
Ketua I : Sukma Perdana
Ketua II : Amin Prayitno
Sekretaris Jenderal : Ita Mardiana Z
Sekretaris I : Rindawati
Sekretaris II : Sofia Zahro
Bendahara Umum : Wiwik Sri Utami
Bendahara I : Aida Kurniawati
Bendahara II : Erfiana

Departemen Organisasi dan Keanggotaan : Sugiharto
Departemen Usaha dan Dana : M. Kasim
Departemen Pengembangan SDM : Mardiana
________________________________________

Semoga kepengurusan Ika Geo Unesa yang sudah berjalan beberapa tahun ini, berbagai kegiatannya seperti study lapangan, workshop dll bisa lebih bermanfaat dan memberikan kualitas lebih terhadap guru-guru geografi di Indonesia. Aamiiin….

ikageounesa

Kegiatan study lapangan Merapi, Parang Tritis dan Gunung Kidul ini berlangsung mulai hari jum’at (6 September 2013) sampai senin (9 September 2013). bus rombongan dijadwalkan berangkat dari unesa hari jum’at jam 18.00 WIB. untuk wilayah Surabaya, Gresik, Sidoarjo dan lamongan kumpul di Unesa. sedangkan untuk wilayah lain bergabung disela-sela perjalanan yang terdekat dengan jalur bus rombongan. ternyata bus berangkat dari Surabaya jam 20.00 WIB. Hmm…… masih seperti itulah jam kita 🙂

pukul 04.30 WIB sampai di masjid Prambanan Solo untuk menunaikan ibadah sholat subuh. perjalanan berlanjut dan sampai base camp tiba jam 06.00 WIB untuk bersiap diri dan sarapan pagi. lokasi base camp tidak jauh dari pantai Parang Tritis, sehingga dari atas keindahannya bisa dinikmati dari kejauhan.

Base Camp lokasi pantai Parang Tritis

Base Camp lokasi pantai Parang Tritis

Pukul 08.30 WIB, rombongan berangkat menuju ke Song/ Luweng Pego dan pukul 09.30 sampai di lokasi observasi.

Lokasi Song / Luweng Pego

Lokasi Song / Luweng Pego

Kita tahu bahwa problem utama masyarakat Gunung Kidul adalah air karena merupakan daerah kapur, sedangkan kapur itu sifatnya adalah impermeable/ kedap air. batuan kapur tidak punya pori-pori tetapi hanya terdapat diaklas/ celah-celah yang bisa dilewati oleh air. Lewat celah itulah air hujan dan air tanah bisa masuk secara infiltrasi maupun perkolasi. Infiltrasi adalah masuknya air hujan ke dalam tanah secara fertikal dan perkolasi adalah mengalirnya air tanah secara horisontal.

Tampak atas goa lokasi Song/ Luweng Pego

Tampak atas goa lokasi Song/ Luweng Pego

Song/ Luweng Pego adalah lokasi cekungan dimana terdapatnya akumulasi air tanah di dalam tanah yang disebut juga sebagai dolina. Sedangkan zona epikarst adalah satu-satunya zone permeable yang bisa menampung air yaitu zona paling atas sekitar 5-10 m.

cekungan Pego yang juga sebagai dolina

cekungan Pego yang juga sebagai dolina

Lokasi Song / Luweng Pego berada di daerah Purwosari Kabupaten Gunung Kidul. Song / luweng itu artinya cekungan, sedangkan pego itu berasap. dengan adanya cekungan yang berasap menunjukkan bahwa dalam cekungan tersebut terdapat akumulasi air yang terjebak dalam lapisan impermeable / kedap air (artinya air sudah tidak bisa menerobos batuan tersebut, kemudian terakumulasi dalam cekungan). kepulan asap yang terjadi adalah akumulasi air yang ada di dalam tanah menjadi panas dan akhirnya menguap, dan seperti mengeluarkan asap (gejala geotermal). pada saat observasi kemaren, air yang ada di dalam dolina karst tidak mengeluarkan asap karena energinya sudah habis. pasokan air dalam cekungan Pego berkurang maka asapnya juga berkurang.

Oleh penduduk setempat akumulasi air karst yang ada dalam dolina ini dimanfaatkan untuk pengairan dalam pemenuhan kehidupan sehari-hari, dengan cara dihubungkan melalui pipa-pipa yang kemudian disedot oleh mesin dan disalurkan ke tempat-tempat yang dibutuhkan.

Mesin penyalur air dari Song / Luweng Pego menuju ke tempat-tempat yang dibutuhkan melalui selang-selang.

Mesin penyalur air dari Song / Luweng Pego menuju ke tempat-tempat yang dibutuhkan melalui selang-selang.

sebagian besar vegetasi yang yang ada di dolina Song / Luweng Sego adalah hutan jati.

Rombongan Ika Geo Unesa

Rombongan Ika Geo Unesa

Peserta dari rombongan Ika Geo Unesa saat memperhatikan penjelasan dan paparan yang disampaikan oleh pak PC Subiyantoro. serius bangeeet….?! hehehe

Pak PC in action..

Pak PC in action..

pukul 10.00 WIB rombongan berlanjut menuju ke Telaga Trowono. Telaga Trowono ini juga juga merupakan dolina, sebuah cekungan yang ponornya tertutup, sehingga bisa menampung air hujan dan perjalanan perkolasi air tanah.

Ponor adalah lubang-lubang resapan yang ada di tanah karst. ketika beban air berlebih maka sumbatan di ponor-ponor itu tidak akan mampu menahan beban air yang ada di atasnya yang akan berakibat hilangnya sumbatan dan air akan berkurang bahkan bisa habis karena meresap ke dalam tanah. Hal ini pernah terjadi di telaga Trowono, akhirnya dibuatlah sumur oleh penduduk setempat untuk mengantisipasi hal tersebut.

Telaga Trowono

Telaga Trowono

Di Telaga Trowono ini ada fenomena sosial dengan nama istilah “SORGEM”. istilah ini sudah tidak asing lagi di telingaku ketika kuliah, materi perkuliahan oleh pak Sapar ketika itu, tapi setelah di telaga Trowono inilah baru tahu betul apa yang di maksud oleh pak Sapar, dosen geografi yang sangat familier di mata mahasiswa-mahasiswinya. hihihi… jadi pingin ketawa.

begini ceritanya, di telaga Trowono ini merupakan tempat berkumpul dan berinteraksinya masyarakat setempat. jadi ingat pelajaran sosiologi hehe…. mereka mandi dan mencuci pakaian di telaga ini sambil berinteraksi satu sama lain untuk membahas berbagai permasalahan. yang sangat menggelikan itu adalah pemandangannya bagi siapa yang belum pernah kesana, seperti diriku juga. mereka sudah terbiasa telanjang (maaf…) dengan menutup aurat di satu tangan jika mau masuk ataupun keluar dari air telaga. demikian juga pada saat mau melepas dan memakai celana pendek mereka. satu tangan sorgem, sedang satu tangan lainnya berusaha untuk melepas dan memakai celana. Dan itu merupakan hal yang biasa bagi mereka. Untuk yang perempuan, mereka mencuci pakaian dengan dada yang sedikit tertutup oleh kain. Sebenarnya banyak temen yang mengabadikan kejadian ini, tapi aku gak berani mengabadikannya. mungkin lewat deskripsi ini saja aku bisa memaparkan apa yang terjadi disana. Ternyata sorgem itu kepanjangan dari nisor di gegem. Upstttt…!!!

Pukul 11.07 WIB, rombongan meluncur ke obyek Wonosari basin. Wonosari basin adalah salah satu contoh dari bentuk uvala.

Sebuah istilah Yugoslavia untuk cekungan tertutup memanjang di karst, umumnya kering atau dengan sungai berkala atau genangan yang masuk ke bawah tanah. Umumnya panjangnya beberapa ratus meter dan dapat dianggap sebagai Polje kecil. Diterjemahkan dari buku Unesco, 1972, Glossary and Multilingual Equivalents of Karst Terms.

Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI Nomor 17 tahun 2012 tentang Penetapan Kawasan Bentang Alam Karst. Uvala adalah gabungan dari dua atau lebih Dolina.

Menurut Whittow (1984), uvala adalah cekungan tertutup yang luas, yang terbentuk oleh gabungan dari beberapa doline. Uvala mempunyai dasar yang tidak teratur yang mencerminkan ketinggian sebelumnya dan karakteristik dari lereng doline yang telah mengalami degradasi serta lantai dasarnya tidak serata polje.

Sejarah pembentukannya adalah dulunya daerah ini merupakan laguna yang terangkat kemudian daerah ini berkembang menjadi rawa (swampy area) dan mengalami perkembangan menjadi basin. Perubahan dari rawa ke daratan ditandai dengan masih dijumpainya beberapa tumbuhan rawa yang masih tertinggal pada bentuklahan ini. Batuan yang dominan di daerah ini adalah dolomit ( CaMgCO3)

IMG02036-20130907-1118

Perbatasan Perbukitan Karst dengan Basin Wonosari ( Paliyan ). Dinamakan Paliyan karena memang daerah ini merupakan peralihan antara daerah Pegunungan Sewu yang merupakan bentuk lahan perbukitan karst menuju daerah Basin Wonosari yang merupakan daerah cekungan (basin). Daerah Paliyan ini awalnya terbentuk dari pengangkatan daerah laut dangkal karena adanya pertumbuhan gunung api sehingga laguna dan atol yang berupa perbukitan karst dan laguna ini berkembang menjadi basin. Daerah yang terangkat ini kemudian mengalami erosi dan pelapukan yang menyebabkan material terdeposisi di antara atol yang telah terangkat ke daratan tersebut. Untuk karakteristik tanahnya masih mengikuti daerah Pegunungan Sewu, yaitu terrarossa, karena sumber materialnya memang berasal dari daerah tersebut dengan pH normal (6-7). Namun semakin ke utara tanahnya beralih menjadi tanah grumosol atau margalit dengan struktur pejal dan permeabelitas tinggi.

next……………

Bermanjakan dengan Alam

September 5, 2013

Foto-0020

Dinginnya malammu mengusik senja hati ku..
Ketika itu kau berdiri di depan ku..
Termangu..
Melihat ku tanpa daya..

Bait demi bait puisi pun telah kamu lantunkan..
Menyapa ku dalam kegelapan malam..
Aku terhanyut dengan mata terpejamkan..
Merasakan kehadiranmu dalam buaian alam..

Sofie, akhir Agustus 2013