Archive for the ‘Artikel’ Category

PENELITIAN GEOLOGI MGMP GEOGRAFI KABUPATEN GRESIK DI PULAU BAWEAN

Juni 1, 2014

Tahun Pelajaran 2013-2014, MGMP Kabupaten Gresik mengadakan kegiatan penelitian geologi di Kabupaten Gresik, tepatnya hari Minggu-Rabu, tanggal 25-28 Mei 2014. Sebenarnya kegiatan ini sudah terencana mulai Tahun Pelajaran 2012-2013, tapi karena waktu itu persiapan belum matang maka tertunda dan baru bisa terlaksana sekarang.

Penelitian diadakan mulai hari minggu tanggal 25 Mei 2014, perjalanan dari gresik menuju bawean dan pertemuan di SMAN 1 Sangkapura. Penelitian dimulai hari kedua dan ketiga, hari senin dan selasa tanggal 26-27 Mei 2014, dan hari terakhir di pulau Bawean adalah hari rabu, tanggal 28 Mei 2014 perjalanan pulang dari Bawean menuju ke Gresik. Ini semua adalah rencana perjalanan kegiatan penelitian geologi MGMP Geografi kabupaten Geografi. Apapun juga rencana rencana manusia, tetaplah hanya Allah yang Maha Berkehendak atas segala sesuatunya, karena hanya Allah yang tahu mana yang terbaik untuk kita semua.

Pada saat rapat persiapan penelitian geologi di SMAN 1 Cerme Gresik, teman2 terlihat sangat antusias untuk mengikuti kegiatan ini, tetapi setelah pemberangkatan di pelabuhan Gresik barulah diketahui ternyata hanya delapan orang yang berangkat dari sepuluh orang yang dipastikan ikut. Satu dosen pendamping, Drs. Daryono, M.Si, dosen geologi dari UNESA, lima guru geografi Kabupaten Gresik yaitu saya, Sofia Zahro, S.Pd. selaku bendahara MGMP Geografi mewakili SMA Yasmu dan MA Yasmu Manyar, Ahmad Abudin, S.Pd, M.Pd. selaku ketua MGMP Geografi dari SMA Sidayu beserta istri yang juga asli orang bawean, Drs Mardiana Adi Wijaya, MM, dari SMAN 1 Menganti, Siti Halimatus Sa’diyah, S.Pd. dari MAN 2 Gresik, Barudin, S.Pd. dari SMA Al-Azhar Menganti dan satu temen lagi alumni geo unesa dari SMAN 1 Pandaan, yaitu Dr. Drs. Fathur Rahman, M.Si.

Minggu pagi jam 09.06 WIB kapal mulai berangkat dari pelabuhan Gresik menuju Bawean menggunakan kapal Ekspres Bahari. Kapal yang menuju pulau Bawean ada dua jenis yaitu kapal besar ASDP Indonesia Verry “Gili Iyang” dengan perjalanan ± 8-10 jam dan kapal yang lebih kecil Ekspres Bahari dengan lama perjalanan ± 3-3.5 jam. Begitu kapal meninggalkan pelabuhan, perjalanan masih terasa tenang-tenang saja. Banyak kapal dan perahu masih terlihat di sekitar perairan pelabuhan Gresik. Saya dan teman-teman menikmati suasana lautan dengan perasaan penuh harap semoga perjalanan lancar dan menyenangkan karena banyak dari kami ini adalah perjalanan pertama kalinya ke bawean.

Setelah perjalanan ±20 mil dari pelabuhan Gresik, ombak sudah mulai terasa menghantam-hantam kapal karena gelombang sudah sampai pada ketinggian 2m sampai 2,5m. Pada saat awal gelombang mulai tinggi, saya lihat di kanan kiri, depan belakang mulai tidak tenang, yang tidur sudah mulai terbangun dan sebagian lagi sudah mulai muntah-muntah Bu Dyah yang duduk disamping saya yg semula bersenandung nenek moyangku seorang pelaut, suaranya juga mulai lenyap dari pendengaran. Saya berusaha untuk untuk kuat dan tegar dalam suasana yang menegangkan. Disaat itu saya berusaha untuk merasa ikhlas menghadapi segala sesuatunya dan bersyukur dalam menjalani hidup. Dalam suasana yang sangat menegangkan itulah saya mulai merasakan kenikmatan tersendiri dalam mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Hanya kebesaran Allah yang ada di hadapan kami semua. Mulai dari ombak dengan ketinggian 2m sampai sampai 2,5m, saya dan teman-teman bisa menikmati keagungan yang ditunjukkan oleh Allah SWT, melewati fenomena laut. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar.

setelah lewat dr ± 20 mil perjalanan dengan ombak yang lumayan tinggi, ± 20 mil berikutnya mendekati pulau bawean saya kira ombak sudah mulai berkurang, tapi ternyata tidak, ombak masih tetep tinggi sampai mendekati pulau Bawean. Kapal sampai di pelabuhan Bawean tepat pukul 12.04 WIB. Ternyata dalam hidup ini hanyalah Allah satu-satunya penolong dan hanyalah Allah satu-satunya pelindung.
Sesampai di pelabuhan saya dan teman-teman dijemput oleh Kepala SMAN 1 Sangkapura, Afandi, S.Pd. M.Pd. beserta Waka Kesiswaan SMPN 1 Sangkapura, Rahmad Safari, S.Pd. M.Pd. rombongan diajak ke posko 1 yang terletak di Dusun Sungai Topo, desa Sungai Teluk. Setelah saya dan teman-teman beristirahat sejenak, barulah menuju lokasi SMAN 1 Sangkapura. Sesampai disana saya dan teman-teman bergabung dengan hampir semua guru geografi dan ips dari SMA, MA, SMP dan MTs dari kecamatan Sangkapura dan Tambak. Dalam pertemuan tersebut diawali dengan berkenalan satu sama lain, rencana kegiatan kerja penelitian geologi dan pengenalan tentang Bawean, baik dari segi geologi, morfologi, social dan budaya. Setelah itu saya dan teman-teman kembali lagi ke posko untuk beristirahat.

Esok paginya saya dan teman-teman memulai penelitian geologi sambil berpetualang untuk yang pertama kalinya di pulau Bawean.

PANTAI BARAT PULAU BAWEAN (PANTAI RIA)

Saya dan teman-teman sampai di pantai Ria pukul 08.19. ketinggian di tempat penelitian setelah diukur dengan altimeter menunjukkan 1 mdpl (meter diatas permukaan air laut) dengan Suhu 29,50C.

Pulau Bawean secara garis besar adalah hasil dari proses vulkanisme. Pantai Ria sebagian besar didominasi oleh batuan beku. Dalam perjalanan menuju pantai Ria, ditemui banyak batuan berwarna putih, semula saya dan teman-teman menganggap itu adalah batuan kapur, tapi setelah di cek dengan tetesan HCL ternyata bukan batuan kapur melainkan batuan beku.

Ada beberapa jenis batuan yang ada di pantai Ria. Yang pertama adalah batuan beku asam, berwarna putih yang sudah mengalami pelapukan yang sangat intensif dan sudah tererosi. Batuan asam mempunyai kandungan Si02 (Silikat Oksida) lebih dari 65%, PH tinggi sehingga sangat asam dan jenis batuan ini tidak subur, karena banyak mengandung kuarsa sehingga tidak banyak memberikan nutrisi pada tanaman.
Sebagian lagi terdapat batuan beku basa dengan warna yang lebih gelap daripada batuan beku asam. Batuan beku basa nantinya akan menghasilkan tanah yang subur karena kandungan silikat oksidanya tidak banyak.

Di pantai Ria juga terdapat batuan beku yang dilapisi warna merah diluarnya diakibatkan oleh proses oksidasi. Proses oksidasi adalah penguraian unsur batuan yang dilakukan diantaranya oleh air sehingga melarutkan mineral batuan. Warna yang tampak diantaranya warna merah kecoklatan (Bahasa Jawa = tayeng/berkarat) yang menandakan adanya unsur Fe atau besi.

Bagian bawah pantai Ria merupakan hasil sedimen klastik/ mekanik dan organic yang dipenuhi oleh pasir berwarna agak keputihan yang berasal dari hancuran karang/ koral dan sebagian terdapat kuarsa. Juga terdapat batuan dengan fragmen bentuk bulat-bulat berasal dari batuan beku vulkanik yang menyatu yang disebut dengan konglomerat.

Disini juga banyak terdapat hewan seperti kecoa tapi kurus sedikit lonjong yang oleh masyarakat sekitar disebut “Sapi-sapian”. Terdapat juga tumbuhan kelapa, jati, akasia, ketapang, semak belukar dll.

IKA GEO UNESA part 3

September 10, 2013

kegiatan Ika Geo Unesa yang ketiga kalinya ini menjadikan Merapi, Parang Tritis, gunung kidul dan sekitarnya sebagai obyek penelitian dari berbagai guru geografi, alumni Geo Unesa yang ada di Gresik, Tuban, Lamongan, Bojonegoro, Kediri, Nganjuk, Jombang, Mojokerto, Sidoarjo dan Surabaya. masing-masing Kabupaten diwakili oleh dua sekolah yang diundang oleh Ika Geo Unesa. kebetulan untuk kabupaten Gresik di wakili oleh MA Yasmu Manyar (sekolah yang mengirimku) dan SMAN 1 Cerme.

keseluruhan alumni berjumlah 26 orang dengan 5 dosen pembimbing. ketua Ika Geo Unesa adalah pak Bambang (mas Bram) sedangkan ketua jurusan geografi saat ini adalah pak Agus Sutedjo dengan sekjurnya ibu Ita. Tidak lupa juga dosen senior geo, bapak Kus Priyanto yang paling dekat dengan mahasiswa n alumni, terutama informasi-informasi di dunia mayanya yang selalu ditunggu-tunggu. juga pak PC (sebutan sayang dari mahasiswa) dengan joke-jokenya yang luar biasa… 🙂

Perlu diketahui bahwa kegiatan study lapangan ini adalah yang ke tiga (terakhir) dari kepengurusan Ika Geo Unesa periode 2011-2015, yang didanai dari PHKI (Program Hibah Kompetisi berbasis Institusi) yang berakhir di tahun 2013. Untuk lebih mengenal Ika Geo Unesa, maka disini perlu dicantumkan beberapa nama pengurus periode 2011-2015 sebagai berikut:

SUSUNAN ORGANISASI
PENGURUS PUSAT IKA GEO UNESA
PERIODE MASA BAKTI 2011 – 2015

Ketua Umum : Bambang Sigit Widodo
Ketua I : Sukma Perdana
Ketua II : Amin Prayitno
Sekretaris Jenderal : Ita Mardiana Z
Sekretaris I : Rindawati
Sekretaris II : Sofia Zahro
Bendahara Umum : Wiwik Sri Utami
Bendahara I : Aida Kurniawati
Bendahara II : Erfiana

Departemen Organisasi dan Keanggotaan : Sugiharto
Departemen Usaha dan Dana : M. Kasim
Departemen Pengembangan SDM : Mardiana
________________________________________

Semoga kepengurusan Ika Geo Unesa yang sudah berjalan beberapa tahun ini, berbagai kegiatannya seperti study lapangan, workshop dll bisa lebih bermanfaat dan memberikan kualitas lebih terhadap guru-guru geografi di Indonesia. Aamiiin….

ikageounesa

Kegiatan study lapangan Merapi, Parang Tritis dan Gunung Kidul ini berlangsung mulai hari jum’at (6 September 2013) sampai senin (9 September 2013). bus rombongan dijadwalkan berangkat dari unesa hari jum’at jam 18.00 WIB. untuk wilayah Surabaya, Gresik, Sidoarjo dan lamongan kumpul di Unesa. sedangkan untuk wilayah lain bergabung disela-sela perjalanan yang terdekat dengan jalur bus rombongan. ternyata bus berangkat dari Surabaya jam 20.00 WIB. Hmm…… masih seperti itulah jam kita 🙂

pukul 04.30 WIB sampai di masjid Prambanan Solo untuk menunaikan ibadah sholat subuh. perjalanan berlanjut dan sampai base camp tiba jam 06.00 WIB untuk bersiap diri dan sarapan pagi. lokasi base camp tidak jauh dari pantai Parang Tritis, sehingga dari atas keindahannya bisa dinikmati dari kejauhan.

Base Camp lokasi pantai Parang Tritis

Base Camp lokasi pantai Parang Tritis

Pukul 08.30 WIB, rombongan berangkat menuju ke Song/ Luweng Pego dan pukul 09.30 sampai di lokasi observasi.

Lokasi Song / Luweng Pego

Lokasi Song / Luweng Pego

Kita tahu bahwa problem utama masyarakat Gunung Kidul adalah air karena merupakan daerah kapur, sedangkan kapur itu sifatnya adalah impermeable/ kedap air. batuan kapur tidak punya pori-pori tetapi hanya terdapat diaklas/ celah-celah yang bisa dilewati oleh air. Lewat celah itulah air hujan dan air tanah bisa masuk secara infiltrasi maupun perkolasi. Infiltrasi adalah masuknya air hujan ke dalam tanah secara fertikal dan perkolasi adalah mengalirnya air tanah secara horisontal.

Tampak atas goa lokasi Song/ Luweng Pego

Tampak atas goa lokasi Song/ Luweng Pego

Song/ Luweng Pego adalah lokasi cekungan dimana terdapatnya akumulasi air tanah di dalam tanah yang disebut juga sebagai dolina. Sedangkan zona epikarst adalah satu-satunya zone permeable yang bisa menampung air yaitu zona paling atas sekitar 5-10 m.

cekungan Pego yang juga sebagai dolina

cekungan Pego yang juga sebagai dolina

Lokasi Song / Luweng Pego berada di daerah Purwosari Kabupaten Gunung Kidul. Song / luweng itu artinya cekungan, sedangkan pego itu berasap. dengan adanya cekungan yang berasap menunjukkan bahwa dalam cekungan tersebut terdapat akumulasi air yang terjebak dalam lapisan impermeable / kedap air (artinya air sudah tidak bisa menerobos batuan tersebut, kemudian terakumulasi dalam cekungan). kepulan asap yang terjadi adalah akumulasi air yang ada di dalam tanah menjadi panas dan akhirnya menguap, dan seperti mengeluarkan asap (gejala geotermal). pada saat observasi kemaren, air yang ada di dalam dolina karst tidak mengeluarkan asap karena energinya sudah habis. pasokan air dalam cekungan Pego berkurang maka asapnya juga berkurang.

Oleh penduduk setempat akumulasi air karst yang ada dalam dolina ini dimanfaatkan untuk pengairan dalam pemenuhan kehidupan sehari-hari, dengan cara dihubungkan melalui pipa-pipa yang kemudian disedot oleh mesin dan disalurkan ke tempat-tempat yang dibutuhkan.

Mesin penyalur air dari Song / Luweng Pego menuju ke tempat-tempat yang dibutuhkan melalui selang-selang.

Mesin penyalur air dari Song / Luweng Pego menuju ke tempat-tempat yang dibutuhkan melalui selang-selang.

sebagian besar vegetasi yang yang ada di dolina Song / Luweng Sego adalah hutan jati.

Rombongan Ika Geo Unesa

Rombongan Ika Geo Unesa

Peserta dari rombongan Ika Geo Unesa saat memperhatikan penjelasan dan paparan yang disampaikan oleh pak PC Subiyantoro. serius bangeeet….?! hehehe

Pak PC in action..

Pak PC in action..

pukul 10.00 WIB rombongan berlanjut menuju ke Telaga Trowono. Telaga Trowono ini juga juga merupakan dolina, sebuah cekungan yang ponornya tertutup, sehingga bisa menampung air hujan dan perjalanan perkolasi air tanah.

Ponor adalah lubang-lubang resapan yang ada di tanah karst. ketika beban air berlebih maka sumbatan di ponor-ponor itu tidak akan mampu menahan beban air yang ada di atasnya yang akan berakibat hilangnya sumbatan dan air akan berkurang bahkan bisa habis karena meresap ke dalam tanah. Hal ini pernah terjadi di telaga Trowono, akhirnya dibuatlah sumur oleh penduduk setempat untuk mengantisipasi hal tersebut.

Telaga Trowono

Telaga Trowono

Di Telaga Trowono ini ada fenomena sosial dengan nama istilah “SORGEM”. istilah ini sudah tidak asing lagi di telingaku ketika kuliah, materi perkuliahan oleh pak Sapar ketika itu, tapi setelah di telaga Trowono inilah baru tahu betul apa yang di maksud oleh pak Sapar, dosen geografi yang sangat familier di mata mahasiswa-mahasiswinya. hihihi… jadi pingin ketawa.

begini ceritanya, di telaga Trowono ini merupakan tempat berkumpul dan berinteraksinya masyarakat setempat. jadi ingat pelajaran sosiologi hehe…. mereka mandi dan mencuci pakaian di telaga ini sambil berinteraksi satu sama lain untuk membahas berbagai permasalahan. yang sangat menggelikan itu adalah pemandangannya bagi siapa yang belum pernah kesana, seperti diriku juga. mereka sudah terbiasa telanjang (maaf…) dengan menutup aurat di satu tangan jika mau masuk ataupun keluar dari air telaga. demikian juga pada saat mau melepas dan memakai celana pendek mereka. satu tangan sorgem, sedang satu tangan lainnya berusaha untuk melepas dan memakai celana. Dan itu merupakan hal yang biasa bagi mereka. Untuk yang perempuan, mereka mencuci pakaian dengan dada yang sedikit tertutup oleh kain. Sebenarnya banyak temen yang mengabadikan kejadian ini, tapi aku gak berani mengabadikannya. mungkin lewat deskripsi ini saja aku bisa memaparkan apa yang terjadi disana. Ternyata sorgem itu kepanjangan dari nisor di gegem. Upstttt…!!!

Pukul 11.07 WIB, rombongan meluncur ke obyek Wonosari basin. Wonosari basin adalah salah satu contoh dari bentuk uvala.

Sebuah istilah Yugoslavia untuk cekungan tertutup memanjang di karst, umumnya kering atau dengan sungai berkala atau genangan yang masuk ke bawah tanah. Umumnya panjangnya beberapa ratus meter dan dapat dianggap sebagai Polje kecil. Diterjemahkan dari buku Unesco, 1972, Glossary and Multilingual Equivalents of Karst Terms.

Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI Nomor 17 tahun 2012 tentang Penetapan Kawasan Bentang Alam Karst. Uvala adalah gabungan dari dua atau lebih Dolina.

Menurut Whittow (1984), uvala adalah cekungan tertutup yang luas, yang terbentuk oleh gabungan dari beberapa doline. Uvala mempunyai dasar yang tidak teratur yang mencerminkan ketinggian sebelumnya dan karakteristik dari lereng doline yang telah mengalami degradasi serta lantai dasarnya tidak serata polje.

Sejarah pembentukannya adalah dulunya daerah ini merupakan laguna yang terangkat kemudian daerah ini berkembang menjadi rawa (swampy area) dan mengalami perkembangan menjadi basin. Perubahan dari rawa ke daratan ditandai dengan masih dijumpainya beberapa tumbuhan rawa yang masih tertinggal pada bentuklahan ini. Batuan yang dominan di daerah ini adalah dolomit ( CaMgCO3)

IMG02036-20130907-1118

Perbatasan Perbukitan Karst dengan Basin Wonosari ( Paliyan ). Dinamakan Paliyan karena memang daerah ini merupakan peralihan antara daerah Pegunungan Sewu yang merupakan bentuk lahan perbukitan karst menuju daerah Basin Wonosari yang merupakan daerah cekungan (basin). Daerah Paliyan ini awalnya terbentuk dari pengangkatan daerah laut dangkal karena adanya pertumbuhan gunung api sehingga laguna dan atol yang berupa perbukitan karst dan laguna ini berkembang menjadi basin. Daerah yang terangkat ini kemudian mengalami erosi dan pelapukan yang menyebabkan material terdeposisi di antara atol yang telah terangkat ke daratan tersebut. Untuk karakteristik tanahnya masih mengikuti daerah Pegunungan Sewu, yaitu terrarossa, karena sumber materialnya memang berasal dari daerah tersebut dengan pH normal (6-7). Namun semakin ke utara tanahnya beralih menjadi tanah grumosol atau margalit dengan struktur pejal dan permeabelitas tinggi.

next……………

Peta Topografi

Maret 4, 2010

PETA TOPOGRAFI SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN GEOGRAFI

Oleh: SOFIA ZAHRO, S. Pd.

Berbicara mengenai peranan (role) sebagai seorang guru, hanya bisa dilihat dari kemampuan akademik yang dimilikinya, disamping kemampuan intelektualnya untuk bisa mendidik siswanya. Guru dihimbau untuk tidak berkecil hati mengukir prestasi, berkiprah menyumbangkan segala daya dan upaya kepada bangsa dan Negara dengan bertujuan untuk memajukan pendidikan di Indonesia, melalui sekolahnya masing-masing.

Dalam tulisan ini disajikan sebuah hasil karya berupa peta topografi tiga dimensi yang terpampang di dinding kantor SMPN 1 Prigen, yang merupakan asset Daerah kabupaten Pasuruan. Peta Topografi tersebut adalah proyek swadaya yang saya bina dan saya bimbing sewaktu saya mengajar di SMPN 1 Prigen Kabupaten Pasuruan, periode tahun pelajaran 1994 -1995. Dana diperoleh dari iuran siswa kelas dua  pada periode tahun tersebut.

Latar belakang pembuatan peta topografi tiga dimensi dikarenakan pada setiap Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pelajaran geografi mengenai peta topografi, siswa mengalami kesulitan membayangkan bentuk nyata peta topografi dari teori yang ada, dengan keadaan yang sebenarnya. Semula akan saya buat suatu media atau alat pembelajaran berupa peta topografi tiga dimensi dalam bentuk kecil yang sederhana yang bisa dipegang dan berpindah dari satu kelas ke kelas yang lain. Tetapi kemudian timbul pemikiran dan ide bahwa alangkah lebih baik kalau membuat peta Topografi tiga dimensi untuk wilayah kecamatan prigen dimana sekolah tersebut berada, mengingat kecamatan prigen bentangan alamnya berupa pegunungan.  Selain berguna untuk siswa sebagai media atau alat pembelajaran, juga berguna bagi orang lain (umum) untuk mengetahui bagaimana bentuk miniature/ tiga dimensi kecamatan prigen yang sebenarnya dipermukaan bumi, baik bentuk reliefnya yang terdiri dari beberapa garis kontur maupun batas-batas kecamatan prigen dengan kecamatan lain yang ada di Kabupaten Pasuruan. Pemikiran saya tersebut ternyata disetujui dan mendapat sambutan positif dari Kepala Sekolah, dengan catatan dana swadaya dari siswa-siswi sendiri.

Peta topografi adalah peta yang didalamnya berisi garis-garis kontur dengan ketinggian berkelipatan sesuai dengan interval konturnya (Ci). Misalnya Ci dengan 100 mdpl (meter diatas permukaan air laut). Setiap garis kontur menghubungkan titik yang mempunyai ketinggian yang sama. Contoh yang paling sederhana bisa dilihat pada gambar I dan II:

Gambar I adalah peta topografi yang berisi garis-garis kontur dengan ketinggian berkelipatan 100mdpl, sedangkan gambar II adalah peta topografi yang diproyeksikan dari samping. Peta topografi yang terpasang di SMPN 1 Prigen kabupaten Pasuruan adalah peta topografi pada bidang datar yang ditransformasikan dalam  bentuk peta topografi timbul/ tiga dimensi/ miniature. Daerah kecamatan Prigen merupakan daerah pegunungan, maka pada peta topografi tiga dimensi tersebut kelihatan seperti kulit bumi beserta relief wilayah kecamatan prigen, diambil/ diiris dan dipisahkan dengan wilayah kecamatan yang lain di Kabupaten Pasuruan dan yang ditonjolkan memang khusus Kecamatan Prigen, dengan bentuk yang unik dan menarik. Ada potongan pinggirnya tinggi, sedang dan ada pula yang rendah. Pewarnaan juga lengkap untuk peta topografi Kecamatan Prigen. Pewarnaan disesuaikan dengan ketinggian tempat diatas permukaan air laut. Terdapat tiga gradasi warna, warna hijau merupakan simbul dari dataran rendah, warna coklat kekuningan merupakan symbol dari dataran tinggi dan warna coklat tua merupakan symbol dari gunung/ pegunungan.

Proses pembuatan peta topografi tiga dimensi tersebut diawali dengan penjelasan materi (teori) kepada siswa, kemudian siswa mempraktekkan pembuatannya. Pekerjaan dilakukan oleh team yang merupakan wakil dari masing-masing kelas dua, tetapi semua siswa mengikuti jalannya proses pembuatan peta topografi tiga dimensi tersebut. Waktu pengerjaan adalah jam istirahat, pulang sekolah, kalau ada jam kosong dan tidak ada tugas dari guru yang bersangkutan. Mereka terlihat sangat antusias dalam mengerjakannya dan sepertinya ingin segera tahu bagaimana hasilnya.

Langkah pertama pembuatan peta topografi tiga dimensi adalah meminjam peta topografi milik laboratoriun jurusan Geografi, fakultas FPIPS IKIP Negeri Surabaya, kemudian dicopy khusus untuk wilayah kecamatan prigen, kemudian hasil copy tersebut diperbesar sesuai keinginan beserta perubahan perhitungan skalanya.

Dari hasil copy yang terakhir kemudian di draft/ dijiplak diatas kertas kalkir pada tiap-tiap garis konturnya dan ditransfer pada lembaran triplek yang berisi hanya satu garis kontur. Satu triplek adalah lapisan dari satu garis kontur, demikian seterusnya sampai lapisan garis kontur pada triplek selesai dibuat. Proses selanjutnya penggergajian masing-masing triplek sesuai garis konturnya, dilanjutkan proses penyusunan tripek sesuai dengan kontur atau ketinggian yang disesuaikan pada peta topografi. Dimulai dari kontur atau ketinggian terendah berada di bawah dan yang terakhir adalah kontur dengan ketinggian tertinggi berada paling atas. Pengerjaan dari tahap ke tahap ini harus dikerjakan dengan penuh ketelitian. Proses pemasangan triplek bisa dilihat pada gambar III:

Setelah penyusunan dan penempelan triplek pada tiap-tiap konturnya selesai, tinggal proses finishing yaitu pewarnaan, membuat garis tepi, judul, arah mata angin, batas kecamatan, skala peta, legenda, titik koordinat lintang bujurnya serta angka ketinggian pada tiap-tiap konturnya, contoh 100mdpl, keatasnya lagi 200mdpl, keatasnya lagi 300mdpl dan seterusnya. Proses finishing dapat dilihat pada gambar IV:

Sekilas orang melihat peta topografi kecamatan prigen tersebut menyerupai miniature Kecamatan  Prigen. Setelah peta topografi tersebut dibuat, ternyata siswa lebih mudah memahami bagaimana bentuk peta topografi yang hanya berisi garis-garis kontur pada bidang datar kemudian ditransformasikan dalam bentuk peta topografi tiga dimensi berdasarkan ketinggian sesuai dengan garis konturnya. Peta tersebut dapat dilihat pada gambar V:

Dari satu contoh pengalaman ini mudah-mudahan dapat memberikan motivasi bagi guru-guru yang lain bahwa prestasi itu bisa diraih oleh siapa saja yang mempunyai niat, minat, kemampuan dan kecakapan lebih. Potensi itu bisa digali sesuai dengan kemampuan akademik dan intelektualnya sebagai guru.

Menuntut ilmu tidak harus belajar teori di dalam kelas, tapi guru harus bisa menjembatani antara ilmu pengetahuan dan kenyataan yang ada serta memperkenalkan fenomena-fenomena yang ada di sekitar kita kepada siswa, tentu saja berkaitan dengan ilmu yang kita miliki, sehingga lebih mempermudah siswa untuk memahaminya. Silahkan mencoba dan berprestasi!…

(penulis pernah mengajar di SMPN 1 Prigen Kabupaten Pasuruan, sejak tahun 1993 – 1996)

Nasib GTT di Tahun 2010

Januari 6, 2010

NASIB GURU TIDAK TETAP (GTT) DI TAHUN 2010

Oleh: SOFIA ZAHRO, S. Pd.

Saya tertarik dan simpati pada beberapa tulisan saudara Augustinus Simanjuntak, dosen Hukum Bisnis dan Aspek Hukum Progran Manajemen Fakultas Ekonomi UK Petra yang mengangkat tema dan peduli tentang nasib Guru Tidak Tetap (GTT) dengan system kontrak. Dua tulisan yang pernah say a baca adalah:  GTT MENURUT PRESPEKTIF HUKUM, Jawa Pos, Rabu 15 Agustus 2007, dan PRESPEKTIF HUKUM DAN EKONOMI UMK 2008, Jawa Pos, Sabtu 29 Desember 2007.

Kesimpulan yang dapat  diambil bahwa dalam dunia pendidikan yang bersifat terus menerus dan membutuhkan waktu dan proses yang sangat lama seharusnya tidak terdapat istilah Guru Tidak Tetap (GTT) dengan system kontrak pada satuan pendidikan pemerintah maupun masyarakat. Masyarakat menurut UU RI No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen adalah kelompok Warga Negara Indonesia non pemerintah yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan. Istilah pekerja kontrak (termasuk guru kontrak) tidak dikenal dalam UU No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan (UU Tenaker), yang ada adalah istilah perjanjian kerja, baik untuk waktu tertentu maupun tak tertentu. Guru Tidak Tetap (GTT) dengan system kontrak memang dibutuhkan, tetapi karena keahlian khusus, yaitu guru yang sewaktu-waktu bisa disewa oleh sekolah untuk member materi-materi khusus dengan waktu tertentu pula. Jadi Guru Tidak Tetap (GTT) dengan system kontrak tidak berlaku untuk guru mata pelajaran yang sifatnya terus menerus dan membutuhkan proses waktu yang sangat lama.

Pasal 59 ayat 7 UU Tenaker menyatakan bahwa status Pekerja Tidak Tetap (waktu tertentu) tidak boleh diterapkan untuk pekerjaan yang sifatnya terus menerus. Pekerja Tidak Tetap (tenaga kontrak) hanya boleh dipekerjakan pada jenis-jenis pekerjaan yang sifatnya borongan atau musiman. Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah proses pendidikan adalah jenis pekerjaan yang sifatnya borongan atau musiman?…

Ini berarti bahwa system kerja kontrak tidak bisa sembarangan diterapkan untuk semua bidang pekerjaan. Dengan demikian untuk guru Mata Pelajaran (bukan guru karena keahlian khusus) tidak berlaku istilah Guru Tidak Tetap (GTT) dengan system kontrak, apalagi guru yang sudah mengabdi bertahun-tahun pada satuan pendidikan pemerintah maupun masyarakat.

Kesalahan presepsi dari satuan pendidikan pemerintah maupun masyarakat inilah yang mengakibatkan seolah-olah hukum tidak berlaku untuk melindungi hak-hak para Guru Tidak Tetap (GTT) dengan system kontrak. Padahal menurut UU RI No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dikatakan bahwa guru berhak mendapatkan perlindungan hokum, perlindungan profesi serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.

Dampak lain yang sering diterima Guru Tidak Tetap (GTT) dengan system kontrak adalah Putusan Hubungan Kerja (PHK) yang sewaktu-waktu dapat diberikan oleh satuan pendidikan pemerintah maupun masyarakat, padahal saat terikat Perjanjian Kerja, satuan pendidikan pemerintah maupun masyarakat menerbitkan Surat Keputusan (SK) pengangkatan GTT. Sangat ironi memang, disamping adanya SK pengangkatan juga terjadi kebebasan dari pihak sekolah untuk menghentikan kontrak kerja atau Putusan Hubungan Kerja (PHK).

Tahun 2010 baru saja kita jelang, menengaok ke belakang, banyak sekali meninggalkan kenangan buruk bagi para Guru Tidak Tetap (GTT) dengan system kontrak. Marak terjadi Putusan Hubungan Kerja (PHK) dimana-mana, baik itu satuan pendidikan pemerintah maupun masyarakat. Tidak tanggung-tanggung Putusan Hubungan Kerja (PHK) yang terjadi adalah bersifat sepihak, yaitu dari pihak sekolah yang merasa sudah tidak membutuhkan karena alas an macam-macam, dan parahnya lagi ternyata ada guru pengganti dari guru yang terkena Putusan Hubungan Kerja (PHK).

Menurut UU RI No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 30 dikatakan: (1) Guru  dapat diberhentikan dengan hormat dari jabatannya sebagai guru karena:

a)      Meninggal dunia

b)      Mencapai batas usia pensiun

c)      Atas permintaan sendiri

d)      Sakit jasmani atau rohani sehingga tidak dapat melaksanakan tugas secara terus menerus selama 12 (dua belas) bulan

e)      Berakhirnya perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama antara guru dan penyelenggara pendidikan.

(2) Guru diberhentikan tidak dengan hormat dari jabatan sebagai guru karena:

a)   melanggar sumpah dan janji jabatan

b)   Melanggar perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama

c)    Melalaikan kewajiban dalam menjalankan tugas selama 1 (satu) bulan atau lebih             secara terus menerus.

Yang menjadi pertanyaan sekarang, Putusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak yang dilakukan satuan pendidikan pemerintah maupun masyarakat dengan alasan sudah tidak dibutuhkan lagi, masuk kategori pemberhentian yang mana?…

Jelas dikatakan bahwa guru mata pelajaran tidak layak digunakan system kontrak karena bukan merupakan kebutuhan untuk waktu tertentu/ borongan, musiman, tetapi kebutuhan waktu tak tertentu, terus menerus dan membutuhkan proses yang sangat lama. Pemberhentian guru sebagaimana dimaksud pasal 30 yang menjelaskan berakhirnya perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama antara guru dan penyelenggara pendidikan lebih ditujukan pada Guru Tidak Tetap (GTT) dengan keahlian khusus dalam waktu tertentu dan bukan untuk guru mata pelajaran dalam waktu yang tak tertentu.

Di sisi lain, UU RI No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, menjawab segala permasalahan diatas. Pasal 41 dijelaskan bahwa Guru wajib menjadi anggota Organisasi Profesi. Organisasi profesi yang dimaksud berfungsi untuk memajukan profesi, meningkatkan kompetensi, karier, wawasan pendidikan, perlindungan profesi, kesejahteraan dan pengabdian kepada masyarakat. Pada pasal 42 disebutkan juga bahwa organisasi profesi guru juga mempunyai kewenangan untuk memberikan bantuan hukum kepada guru juga memberikan perlindungan profesi guru. Sampai detik ini masih banyak sekali guru (terutama guru yang bekerja pada satuan pendidikan masyarakat/ guru swasta)  belum mengetahui isi dari UU RI No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, juga belum mengerti tentang keberadaan organisasi profesi apalagi untuk menjadi anggota, padahal salah satu tujuan organisasi profesi adalah memperjuangkan hak-hak para guru.

Dengan demikian terjawab sudah, bahwa satuan pendidikan pemerintah maupun masyarakat yang bertindak semena-mena mengadakan Putusan Hubungan Kerja (PHK) secara sepihak bertentangan dengan UU RI No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Memasuki tahun 2010 ini mudah-mudahan menjadikan angin segar bagi para Guru Tidak Tetap (GTT) baik di satuan pendidikan pemerintah maupun masyarakat dengan system kontrak, untuk menjadikan lebih baik lagi disertai dengan harapan baru yang lebih baik daripada sebelumnya. Semoga!…

(Tulisan ini dibuat pada Desember 2007 dan disempurnakan pada Januari 2010).

Hutan Sekolah SMAN 1 Kedamean Gresik

Desember 9, 2009

A  R  T  I  K  E  L

Oleh: Sofia Zahro, S.Pd.

Guru Geografi dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH)

SMAN 1 KEDAMEAN KABUPATEN GRESIK

Pengenalan Hutan Dan Hortikultura SMAN I Kedamean Pada Siswa

Dalam rangka peduli lingkungan, tempat tinggal kita sehari-hari di SMAN I Kedamean, dan adanya keterkaitan antar manusia dengan lingkungannya baik itu litosfer (lapisan kulit bumi), atmosfer (selimut bumi) maupun hidrosfer (area perairan), maka manusia sebagai faktor biotik, dengan kemampuan dan teknologi yang dimiliki harus mampu melestarikan kehidupan hewan, tumbuhan dan lingkungan fisik di sekitarnya. Dengan cara menjadikan tanah tandus menjadi hutan, dalam bentuk Hutan dan  Hortikultura SMAN I Kedamean.

Pemikiran tentang Hutan dan Hortikultura SMAN I Kedamean tidak terlepas  dari perjuangan dan kerjasama antar berbagai pihak. SMAN I Kedamean yang dipimpin oleh Dra. Tri Wahyu Nugraheni, MM., sebagai penanggung jawab program. Drs.  Chusaini Mustas, M.Pd., Kepala Dinas Pendidikan, Dr. Husnul Khuluq, Drs. MM., dan Dr. KH Robbach Ma’sum, Drs. MM., Bupati Pemerintah Daerah Kabupaten Gresik. Perjuangan dan kerja sama tersebut berbuah hasil dengan penambahan luas tanah sekolah sebanyak 11475 M2

. Untuk penanaman pohon, bibit diperoleh dari bantuan Dinas Pertanian dan Dinas Lingkungan Hidup. Selain itu juga dari para guru, TU dan semua siswa SMAN I Kedamean wajib menjadi donatur untuk bibit yang ditanam. Bibit yang ditanam adalah sejenis   tanaman keras seperti jati, mahoni dan lain-lain. Selain itu juga tanaman hortikultura yaitu jenis tanaman perkebunan yang dibudidayakan seperti mangga, rambutan, jeruk, anggur dan lain-lain. Tidak menutup kemungkinan tanaman lainnya seperti adenium, ephorbia, sansivera dan lain-lainnya yang wajib di bawa oleh siswa. Pendampingan pembuatan pupuk dibantu dari Buncop Petrokimia Gresik. Pendanaan program sebagian ditanggung oleh Komite Sekolah. Sedangkan penanaman bibit dan pemeliharaan dilakukan oleh semua warga sekolah dan Stake Holder Sekolah.

Kebersamaan ini tidak terlepas dari Visi sekolah yaitu, Sekolah Unggul Dalam Mutu Berpijak Pada Iman, Taqwa, Budaya Bangsa Dan Disiplin Yang Tinggi. Hal ini juga sesuai dengan misi sekolah untuk menerapkan Manajemen Partisipatif dengan melibatkan seluruh warga sekolah dan Stake Holder Sekolah.

Perencanaan Hutan Dan Hortikultura SMAN I Kedamean, sesuai dengan tujuan sekolah, yang merupakan hasil acuan dari rumusan visi dan misi sekolah yaitu antara lain:

  • Ø Meningkatkan upaya yang dapat memberikan motivasi siswa agar mau belajar giat dan berdisiplin waktu pada program pembelajaran yang berkualitas.
  • Ø Meningkatkan kemampuan / kualifikasi guru baik dibidang keilmuan maupun dibidang kependidikan sesuai dengan tuntunan program pembelajaran yang berkualitas.
  • Ø Mengupayakan pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan untuk mendukung Kegiatan Belajar Mengajar dan Hasil Belajar Siswa.
  • Ø Meningkatkan pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler unggulan yang sudah berjalan dan mengadakan kegiatan ekstra kurikuler baru yang sesuai dengan potensi dan minat siswa.
  • Ø Meningkatkan pembinaan pada kelompok PIR, IMO, IPHO, ICHO, IBO, Olimpiade Kebumian, Astronomi, Akuntansi, computer dan lain-lain yang mampu bersaing di tingkat Propinsi.
  • Ø Menjalin kerjasama dengan lembaga terkait, masyarakat dan dunia usaha.
  • Ø Mengembangkan kurikulum sesuai tuntutan masyarakat dan lingkungannya.
  • Ø Mewujudkan pembelajaran menyenangkan dalam lingkungan yang asri dan dapat berkomunikasi langsung dengan alam sekitarnya.

Kita sering mendengar dan melihat bencana alam banjir dan longsor ada dimana-mana. Hal tersebut dikarenakan banyaknya hutan-hutan yang gundul akibat banyaknya illegal loging  (penebangan hutan secara liar) yang marak terjadi beberapa tahun ini. Dengan adanya program Hutan dan Hortikultura SMAN I Kedamean diharapkan dapat mencegah rusaknya lingkungan yang berhubungan dengan air, tanah dan udara. Keuntungan dimasa mendatang dengan adanya program ini antara lain:

  • Ø Tumbuh-tumbuhan dapat menyaring dan mengatur air, mencegah banjir dan menimbulkan mata air. Air tanah yang ada di Desa Slempit pada khususnya, penyebarannya tidak merata. Ada titik-titik tertentu yang sangat sulit mendapatkan air tanah. Dengan adanya Hutan dan Hortikultura SMAN I Kedamean, diharapkan nantinya air tanah dapat terakumulasi dengan baik dalam jumlah yang sangat banyak, sehingga masyarakat tidak akan mengalami kesulitan air lagi.
  • Ø Tumbuh-tumbuhan dapat menyuburkan tanah. Daun-daun yang berguguran, lama-kelamaan membusuk dan menjadi lapisan humus. Akar tanaman dapat mencegah erosi dan bahaya longsor.
  • Ø Tumbuh-tumbuhan menimbulkan udara yang segar, sebab tumbuhan mengambil CO2 dan melepaskan O2 yang diperlukan manusia untuk bernafas. Hal ini terjadi pada proses fotosintesis. Kita tahu bahwa lingkungan sekolah saat ini amat panas dimusim kemarau, maka dengan adanya program ini diharapkan agar suasananya menjadi rindang dan segar. Dengan udara yang segar maka Kegiatan  Belajar Mengajar di SMAN I Kedamean akan berjalan dengan nyaman.
  • Ø Lingkungan yang asri, rindang, nyaman dan segar tentu saja tidak hanya manusia yang menyukainya. Berbagai  hewan seperti Jenis burung, kupu-kupu dan lainnya akan berdatangan melengkapi ekosistem yang baru.
  • Ø Tanaman hortikultura juga bisa dinikmati hasil buahnya. Dengan manajemen yang baik akan menghasilkan keuntungan bagi sekolah.

SMAN I Kedamean wajib mengemas kondisi potensi geografis di sekolah menjadi media daya dukung proses pembelajaran. Sarana dan prasarana yang ada dioptimalkan sejalan dengan kepedulian pemanfaatan potensi lingkungan. Guru dan siswa harus mampu menciptakan nilai tambah secara terus-menerus dengan menggali potensi lingkungan.

Lingkungan yang asri, rindang, nyaman  dan segar tentu akan menyenangkan bagj kelangsungan kegiatan Belajar Mengajar, baik belajar di dalam kelas maupun diluar kelas. Belajar di kelas, Oke! Di teras, bisa! Di halaman, kebun, hutan dan hortikultura, atau di taman bunga, Oke! Marilah kita mulai mengenal potensi lingkungan SMAN I Kedamean agar menjadi salah satu sumber inspirasi dan informasi. . Bagi siswa menguasai dan memahami lingkungan sendiri memudahkan penguasaan atas esensi dan kompleksitas materi pembelajaran. Oleh karena itu, Ayo kita sukseskan program Hutan dan Hortikultura SMAN I Kedamean. Ok!…

(diterbitkan di majalah Putih Abu, majalah semesteran SMAN 1 Kedamean Gresik pada semester ganjil tahun pelajaran 2009-2010)