Archive for the ‘Geo X-Genap-Atmosfer’ Category

ATMOSFER

Juni 3, 2017

TEKS 1

CIRI – CIRI  LAPISAN  ATMOSFER

 

Atmosfer adalah selubung udara yang menutupi seluruh permukaan Bumi. Di dalam atmoster masih dapat dibagi menjadi beberapa lapisan, yaitu :

  1. Troposfer yaitu lapisan udara yang terletak pada ketinggian 0-10 km, yang dapat dibedakan atas 3 macam, yaitu :  Lapisan mikro, yaitu lapisan udara dengan ketinggian kurang dari 2 meter. Pada lapisan inilah banyak dijumpai makhluk hidup.  Lapisan geseran, yaitu lapisan udara yang terletak pada ketinggian 1,5 – 2 km. pada lapisan geseran ini angin bertiup kurang kencang dibandingkan dengan lapisan yang terdapat di atasnya. Lapisan Tropopause, yaitu lapisan udara yang merupakan suatu batas troposfer dengan stratosfer.

Semua gejala cuaca, seperti hujan, petir, awan, angin dan sebagainya terjadi hanya pada lapisan troposfer ini saja. Pesawat komersil untuk angkutan penumpang, hanya terbang pada troposfer. Sedangkan pesawat jet yang biasanya untuk kepentingan perang dapat terbang di luar troposfer.

  1. Stratosfer yaitu lapisan udara yang terletak pada ketinggian 10 – 60 km, yang terbagi menjadi 2 macam lapisan : Lapisan isother, yang terletak pada ketinggian 20 – 35 km. lapisan ini mempunyai penyebaran suhu vertikal kurang lebih sama. Lapisan ozon (Lapisan panas), terletak pada ketinggian 35-50 km. lapisan ini dapat menahan pengaruh sinar ultra violet yang sangat kuat. Sehingga terkoyaknya lapisan ozon maka sangat berbahaya bagi kehidupan di Bumi.
  2. Mesosfer yaitu lapisan udara yang terletak pada ketinggian 60 – 85 km yang berada di atas stratosfer. Suhu di lapisan ini mula-mula naik kemudian turun dan mencapai minimum mendekati lapisan mesopause. Pada lapisan ini sebagian meteor terbakar dan terurai. Antara stratosfer dan mesosfer terdapat lapisan stratopause.
  3. Thermosfer/Ionosfer. yaitu lapisan pada atmosfir yang terletak pada ketinggian 85 – 300 km. pada lapisan ini terjadi ionisasi atom-atom udara oleh radiasi yang berenergi tinggi. Oleh sebab itu lapisan ini dapat memantulkan gelombang radio, yang dapat dibedakan atas : Lapisan D, terletak pada ketinggian 85-90 km. lapisan ini dapat memantulkan gelombang radio yang berfrekwensi rendah (300 KHz) atau panjang gelombangnya lebih dari 1 km. Lapisan E (90-130 km), yang dapat memantulkan gelombang radio yang berfrekwensi medium (300 KHz – 3000 KHz) atau panjang gelombang I km – 100 m. Lapisan F (diatas 130 km), yang dapat memantulkan gelombang yang berfrekwensi tinggi (3 MHz – 30 MHz) atau panjang gelombang 100 m–10 m.
  4. Eksosfir, merupakan lapisan terluar dari atmosfir, yang batasnya tidak jelas. Lapisan ini disebut juga lapisan dissipasisfir.

TEKS 2

UNSUR – UNSUR CUACA DAN IKLIM

Seperti telah diketahui sebelumnya bahwa cuaca dan iklim merupakan dua istilah yang berbeda. Cuaca adalah keadaan udara pada tempat yang sempit dan dalam waktu yang singkat. Sedangkan iklim adalah keadaan rata-rata udara pada tempat yang luas dan dalam waktu yang sangat lama. Namun baik cuaca maupun iklim mempunyai unsur-unsur yang sama. Unsur-unsur tersebut yaitu penyinaran matahari, suhu udara, tekanan udara, kelembaban udara, awan, dan curah hujan

  1. Penyinaran Matahari

Banyaknya sinar matahari yang diterima oleh bumi, tergantung dari:

  1. Jarak dari matahari

Jarak dari bumi ke matahari berubah-ubah sebab orbit bumi mengelilingi matahari berbentuk ellips dan matahari terletak pada salah satu titik apinya. Jarak terjauh terjadi pada tanggal 4 Juli disebut aphelium (151.900.000 km) dan jarak terdekat pada tanggal 3 Januari disebut perihelium (149.500.000 km).

  1. Sudut datang sinar matahari

Sinar yang jatuh tegak lurus dengan sinar yang jatuh condong/miring akan berbeda dalam proses pemanasan terhadap bumi. Di daerah sekitar khatulistiwa, sinar matahari akan jatuh pada posisi tegak lurus sehingga pemanasannya lebih tinggi. Adapun untuk daerah pada lintang sedang sampai pada lintang tinggi (kutub) akan mendapat sinar yang jatuh miring/condong sehingga pemanasannya lebih rendah.

  1. Lamanya penyinaran matahari/panjangnya siang hari.

Di daerah lintang sedang sampai lintang tinggi mempunyai panjang siang hari yang tidak sama. Siang terpanjang pada waktu musim panas dan siang terpendek pada waktu musim dingin. Dengan demikian banyaknya sinar matahari yang diterima oleh permukaan bumi sangat ditentukan oleh panjangnya siang hari.

  1. Keadaan Atmosfer

Dalam perjalanan sinar matahari mencapai bumi akan melewati atmosfer yang selama perjalanannya itu akan mengalami beberapa hambatan sehingga panas yang diterima, juga akan mengalami pengurangan. Keadaan atau kejernihan atmosfer ditentukan oleh banyak sedikitnya uap air dan awan.

  1. Suhu Udara

Faktor-faktor yang mempengaruhi suhu udara di permukaan bumi ialah :

  1. Letak lintang.

Semakin ke arah kutub suhu udara semakin di­ngin sedangkan semakin ke arah khatulistiwa suhu udara semakin panas. Perlu diketahui bahwa hal ini disebabkan karena pergeseran semu tahunan matahari hanya pada 23 ½ ° LU s/d 23 ½° LS.

Semakin tinggi suatu tempat suhu udaranya se­makin dingin. Karena sumber panas suhu udara bukan dari sinar matahari secara langsung melainkan dari panas sinar matahari yang telah dilepaskan oleh bumi.

  1. Darat atau Laut

Darat pada siang hari lebih cepat panas suhu udaranya dari pada laut. Karena panas yang diterima darat pada bagian yang tipis saja sehingga cepat dilepaskan. Sedangkan kalau dilaut pada bagian yang sangat dalam sehingga pelepasannya lambat.

Kemudian pada waktu malam hari darat juga lebih cepat dingin daripada laut, karena panas yang disimpan oleh darat lebih cepat habis dari­pada laut.

  1. Angin atau Arus Laut.

Angin/arus laut yang berasal dari daerah dingin akan membawa suhu yang dingin, begitu pula sebaliknya.

  1. Keadaan atmosfir (udara)

Di dalam udara ini banyak mengandung uap air, awan, debu mikrokosmik, karbondioksida dan sebagainya.

Peranan awan di udara terhadap radiasi adalah dapat menghalangi radiasi matahari dan radiasi bumi. Oleh sebab itu apabila atmosfir sedang tertutup oleh awan mulai pagi sampai siang, maka suhu udaranya menjadi lebih rendah. Tetapi apabila awan muncul pada siang sampai malam, maka suhu udaranya menjadi lebih tinggi.

Contoh : apabila pada waktu sore suhu udaranya lebih panas, maka biasanya akan turun hujan. Ini berarti udara sedang berawan.

  1. Tekanan Udara

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tekanan udara, diantaranya :

  1. Letak lintang

Semakin ke arah kutub gravitasi bumi semakin besar, oleh sebab itu tekanan udaranya semakin rendah. Sedangkan semakin kearah Khatulistiwa gravitasi bumi semakin kecil, oleh sebab itu tekanan udaranya semakin tinggi.

  1. Suhu udara

Di dalam barometer berisi air raksa. Sifat air raksa apabila dipengaruhi oleh suhu udara yang panas akan mudah mengembang. Oleh sebab itu barometer yang diletakkan pada suhu udara yang panas akan selalu menunjukkan angka yang tinggi.

  1. Ketinggian

Semakin ke atas tekanan udara semakin ren­dah karena kolom udara semakin tipis.

  1. Angin

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan angin, antara lain :

  1. Gradient tekanan, adalah perbedaan tekanan setiap kesatuan jarak horisontal. Semakin besar gradient te­kanan semakin cepat angin bertiup.
  2. Gaya Coriolis, adalah gaya pembelokan arah angin akibat rotasi bumi. Hukum Buys Ballot :

“Apabila seseorang berdiri di belahan bumi utara membelakangi angin, maka tekanan rendah berada di sebelah kiri. Sedangkan di belahan bumi selatan adalah sebaliknya”.

  1. Lapisan Geseran, misalnya : Gedung-gedung, rumah, pohon-pohon, dsb.

Semakin ke atas angin bertiup semakin kencang, karena lapisan geseran semakin berkurang (tidak ada).

Angin dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam, yaitu :

  • Angin Tetap, adalah angin yang bertiup dengan arah yang tetap sepanjang tahun. Macam-macam angin tetap yang bertiup di atas muka bumi :
  1. Angin Passat, yaitu angin yang bertiup dari tekanan tinggi Sub Tropis ke tekanan rendah Equator. Angin Passat dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu :
  2. Angin Passat Timur Laut di belahan Bumi Utara
  3. Angin Passat Tenggara di belahan Bumi Selatan
  4. Angin Barat, yaitu angin yang bertiup dari tekanan tinggi Sub Tropis ke tekanan rendah Sub Polar.
  5. Angin Kutub (Angin Timur), yaitu angin yang bertiup dari tekanan tinggi polar (kutub) ke rendah Sub Polar.
  • Angin Muson, yaitu angin yang bertiup berlawanan arah setiap setengah tahun sekali. Angin Muson, yang bertiup di Indonesia ada­lah :
  1. Angin Muson Timur Laut/Barat Laut, bertiup pada Oktober-April yang berasal dari Samudera Pasifik dan mengakibatkan musim hujan.
  2. Angin Muson Tenggara, bertiup pada April-Oktober yang berasal dari Benua Australia yang menyebabkan musim kemarau.
  • Angin Lokal (Angin setempat), adalah angin yang bertiup di daerah yang tidak seberapa luas. Yang dapat digolongkan angin lokal, antara lain :
  1. Angin Darat atau Angin Laut
  • Pada waktu siang hari daratan lebih cepat panas daripada laut, sehingga daratan bertekanan lebih rendah daripada laut. Maka terjadilah angin laut.
  • Pada waktu malam hari daratan lebih cepat dingin daripada laut, sehingga daratan bertekanan lebih tinggi daripada laut. Maka terjadilah angin darat.
  1. Angin Lembah dan Angin gunung
  • Pada waktu siang hari di lereng gunung lebih cepat panas daripada lembah, maka udara yang terdapat di lereng gunung tersebut mengembang dan bergerak naik. Akibatnya terjadilah angin dari lembah naik lereng gunung.
  • Pada waktu malam hari di lereng gunung lebih dingin daripada di lembah sehingga udaranya lebih berat. Akibatnya udara di lereng gunung bergerak turun menuju lembah sebagai angin gunung.
  1. Angin Jatuh Panas Kering (Angin Fohn)

Syarat terjadinya angin fohn adalah adanya udara yang bergerak naik melintasi gunung, dan tinggi gunung tersebut harus lebih tinggi daripada tingkatan kondensasi. Akibatnya setelah mencapai puncak, udara yang turun tersebut mempunyai suhu yang lebih panas. Proses terjadinya angin fohn yaitu, angin basah bergerak naik melintasi gunung sangat tinggi, namun sebelum mencapai puncak angin basah tersebut mengalami kondensasi, sehingga angin tersebut naik lagi sebagai angin dingin yang kering dan setelah mencapai puncak angin tersebut turun sebagai angin panas.

Contoh angin jatuh panas di Indonesia antara lain :

  • Angin Gending di Probolinggo
  • Angin Kumbang di Cirebon
  • Angin Baharok di Deli
  • Angin Brubu di Makasar
  • Angin Wambraw di P.Biak
  1. Kelembaban Udara

Kelembaban udara ada dua macam, yaitu :

  • Kelembaban mutlak/absolut, yaitu jumlah uap air dalam udara setiap 1 m pada suatu tempat, diukur dengan higro­meter yang dinyatakan dengan gram.
  • Kelembaban relatif/nisbi, yaitu perbandingan antara jumlah uap air dalam udara dengan jumlah uap air maksimum yang dapat dikandung udara dalam suhu udara tertentu yang dinyatakan dengan persen (%).

Rumus :

x 100 %

Kelembaban Relatif  : Kelembaban Mutlak

  Kelebaban Maksimum

Apabila kelembaban relatif lebih dari 100 % maka akan terjadi Kondensasi.

Peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan kelembaban udara antara lain :

  1. Penguapan, yaitu proses berubahnya air menjadi uap air atau gas.
  2. Kondensasi, yaitu proses berubahnya uap air menjadi titik air.
  3. Embun, yaitu titik-titik air yang menempel pada benda-benda yang terdapat di atas permukaan bumi. Embun terjadi karena udara dekat permukaan bumi telah jenuh akan uap air, kemudian pada waktu malam atau pagi hari terjadi radiasi bumi yang sangat dingin. Sehingga uap air tersebut berubah menjadi titik-titik air.
  4. Kabut, adalah titik-titik air yang melayang-layang di udara dekat permukaan bumi. Menurut proses terjadinya kabut dapat dibedakan atas
  5. Kabut Radiasi, terjadi karena udara dekat permukaan bumi banyak terdapat uap air, kemudian pada waktu malam atau dini hari terjadi radiasi bumi yang sangat hebat dengan suhu udara yang sangat dingin sehingga uap air tersebut mengalami kondensasi berubah menjadi kabut.
  6. Up slope fog ( kabut lereng pegunungan), terjadi karena udara mengandung uap air bergerak naik sepanjang lereng pegunungan, karena semakin tinggi lereng tersebut suhu udaranya semakin dingin maka uap air tersebut mengalami kondensasi berubah menjadi kabut.
  7. Awan

Awan adalah titik-titik air atau es yang melayang-layang di udara yang jauh dari permukaan bumi. Pada dasarnya awan mempunyai 3 bentuk dasar yaitu :

  • Cirroform, adalah awan yang berbentuk bulu.
  • Stratiform, adalah awan yang berlapis-lapis
  • Cumuliform, adalah awan yang berbentuk gumpalan seperti bunga kol.

Kombinasi dari tiga bentuk dasar tersebut, berdasarkan ketinggiannya dapat dibedakan menjadi 4 golongan awan atau fomely, yang seluruhnya dapat dibagi menjadi 10 macam awan yaitu

Fomely A : Awan tinggi (lebih dari 6000 m), meliputi:

  1. Cirrus
  2. Cirro Cumulus
  3. Cirro Stratus

Fomely B : Awan sedang (2000 m – 6000 m), meliputi:

  1. Alto Cumulus
  2. Alto Stratus Fomely

Fomely C : Awan rendah (kurang dari 2000 m ), meliputi :

  1. Strato Cumulus
  2. Stratus
  3. Nimbo Stratus

Fomely D : Awan dengan gerakan vertikal yang kuat, dasarnya 500 m dan puncaknya mencapai 1500 m.

  1. Cumulus
  2. Cumulo Nimbus
  3. Hujan

Hujan dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu :

1) Menurut bentuknya, hujan dapat dibedakan menjadi :

  1. Hujan air, yaitu butir-butir air yang jatuh ke permukaan bumi.
  2. Hujan es, yaitu butir-butir es yang jatuh ke permukaan bumi.

Hujan es terjadi karena udara yang banyak mengandung uap air bergerak naik secara cepat, setelah sampai di atas uap air tersebut mengalami kondensasi, dan terus bergerak lagi sampai melampaui di bawah titik beku, yang kemudian berubah menjadi butir-butir es yang kemudian turun ke bumi.

  1. Hujan salju, yaitu hujan yang berbentuk padat. Terjadinya karena udara mengandung uap air mengalami pembekuan berubah menjadi padat (salju), karena udara sangat dingin jauh di bawah titik beku.

2) Menurut cara terjadinya, hujan dapat dibedakan menjadi :

  1. Hujan Zenithal atau Konvektif, yaitu hujan yang terjadi karena udara mengandung uap air disinari matahari yang sangat panas kemudian membumbung naik sehingga mengalami kondensasi berubah menjadi awan dan selanjutnya turun sebagai hujan. Hujan ini banyak terjadi di daerah yang dilalui garis Khatulistiwa.
  2. Hujan Orografis, adalah hujan yang terjadi karena udara lembab dibawa angin naik menuju lereng gunung sehingga sampai di atas mengalami konden­sasi berubah menjadi awan yang kemudian turun menjadi hujan. Hujan ini sangat bergantung pada angin Musim Barat Laut atau Timur Laut (dari Samudera Pasifik), misalnya hujan yang terjadi P. Jawa, Ball dan Nusa Tenggara.
  3. Hujan Konvergen/Hujan Frontal, yaitu hujan yang terjadi karena pertemuan antara udara panas dengan udara dingin. Karena udara panas lebih ringan dari pada udara dingin, udara panas terpaksa naik sehingga sesampainya di atas mengalami kondensasi berubah menjadi awan dan kemudian turun sebagai hujan

 

 

 

 

 

TEKS 3

TIPE-TIPE IKLIM

 

  1. Iklim Astronomis/ Iklim Matahari

Letak lintang suatu tempat mempunyai pengaruh banyak sedikitnya sinar matahari yang diterima oleh tempat tersebut. Iklim yang didasarkan pada banyak sedikitnya matahari yang diterima oleh suatu tempat tersebut disebut iklim astronomis/iklim matahari.

Adapun pembagian iklim matahari adalah sebagai berikut :

  1. Iklim Tropis terletak pada 23,5° LU – 23,5° LS. Di daerah ini mempunyai suhu udara panas, kelembaban udara tinggi, dan curah hujan cukup banyak.
  2. Iklim Sub Tropis terletak pada 23,5° LU – 40° LU dan 23,5° LS – 40° LS. Di daerah ini mempunyai curah hujan sedikit dan banyak padang pasir.
  3. Iklim Sedang terletak pada 40° LU – 66,5 LU Dan 40° LS – 66,5° LS. Di daerah ini mempunyai 4 musim yaitu semi, panas, gugur, dan dingin.
  4. Iklim Kutub terletak pada 66,5° LU – 90° LU dan 66,5° LS – 90° LS. Di daerah ini mempunyai suhu udara sangat dingin sehingga terdapat Salju Abadi.
  5. Iklim Junghuhn.

Ketinggian suatu tempat, sangat erat kaitannya dengan tipe iklim. Pembagian iklim berdasarkan ketinggian ini hanya berlaku untuk daerah iklim tropis saja. Orang yang membagi iklim berdasarkan ketinggian ini adalah Junghuhn. Adapun pembagian iklim menurut Junghuhn adalah sebagai berikut :

  1. Zone iklim Panas, terletak pada ketinggian 0 – 700 m diatas permukaan laut, dengan suhu T rata-rata tahunan lebih dari 22° C. di daerah ini banyak dijumpai tanaman padi, jagung, tebu, dan kelapa.
  2. Zone iklim Sedang, terletak pada ketinggian 700 – 1500 m diatas permukaan laut, dengan suhu rata-rata tahunan antara 15° C – 22° C. di daerah ini banyak dijumpai tanaman teh, kopi, coklat, karet dan kina.
  3. Zone iklim Sejuk, terletak pada ketinggian 1500 – 2500 m di atas permukaan laut, dengan suhu rata-rata tahunan 11° C – 15° C. Di daerah ini banyak dijumpai tanaman Pinus dan hortikultura (sayur-sayuran, buah-buahan, dan tanaman hias / bunga).
  4. Zone iklim Dingin, terletak pada ketinggian 2500 – 4000 m diatas permukaan laut, dengan suhu rata-rata kurang dari 11° C. Tumbuhan yang masih bertahan hidup adalah lumut.
  5. Iklim Schmidt Fergusson

Schmidt Fergusson membuat iklim didasarkan pada bulan basah dan bulan kering. Menurut seorang ahli tanah bernama Mohr, yang dimaksud dengan :

  1. bulan kering, yaitu apabila curah hujan kurang dari 60 mm.
  2. bulan lembab, yaitu apabila curah hujan antara 60-100 mm.
  3. bulan basah, yaitu apabila curah hujan lebih dari 100 mm.

ari bulan basah dan bulan kering tersebut, maka kemudian dihitung rasionya dengan menggunakan rumus :

Q= Rata-rata jumlah bulan kering   X 100%

Rata-rata jumlah bulan basah

Berdasarkan nilai Q yang diperoleh, maka di Indonesia dapat dibagi menjadi golongan iklim, yaitu

  1. Iklim A = 0 – 14,3 % sangat basah.
  2. Iklim B= 14,3%-33 3% basah
  3. Iklim C = 33,3 %- 60 % agak basah
  4. Iklim D = 60 % – 100 % sedang
  5. Iklim E = 100 % – 167 % agak kering
  6. Iklim F = 167 % – 300 % kering
  7. Iklim G = 300 % – 700 % agak kering
  8. Iklim H = lebih dari 700 % luar biasa kering.

 

  1. Iklim Koppen

Iklim Koppen ini adalah iklim yang penyusunannya didasarkan pada suhu udara dan curah hujan rata-rata tahunan. Penyusunan Iklim Koppen dengan cara seperti berikut ini,:

  • Tipe iklim Af, yaitu iklim hutan hujan tropis dengan curah hujan merata sepanjang tahun.
  • Tipe iklim Am, yaitu ikiim hutan hujan musim dengan musim kering setengah tahun.
  • Tipe iklim Aw, yaitu iklim Sabana (padang rumput yang diselingi oleh semak belukar dan pohon-pohon kecil)
  • Tipe iklim BS, yaitu iklim Steppa (padang rumput yang luas)
  • Tipe iklim BW, yaitu iklim Gurun (padang pasir yang luas).
  • Tipe iklim Cf, yaitu iklim Hujan yang suhunya sedang dan hujan merata sepanjang tahun.
  • Tipe iklim Cs, yaitu iklim Hujan yang suhunya sedang dengan musim panas yang kering.
  • Tipe iklim Cw, yaitu iklim hujan yang suhunya sedang dengan musim dingin yang kering.
  • Tipe iklim Df, yaitu iklim dingin dengan hujan merata sepanjang tahun.
  • Tipe iklim Dw, yaitu iklim dingin dengan musim dingin yang kering.

Iklim Schmidt Ferquson

Januari 16, 2012

Klasifikasi Iklim Schmidt dan Ferguson

Sirkulasi Angin

Januari 16, 2012

SIRKULASI ANGIN

Klasifikasi iklim Koppen- ppt

Januari 16, 2012

KLASIFIKASI IKLIM KOPPEN

Angin Lokal

November 1, 2011

Download

GAS-GAS YANG TERKANDUNG PADA ATMOSFER

Maret 18, 2011

Atmosfer merupakan lapisan udara yang menyelubungi bumi. Atmosfer terdiri dari berbagai macam gas. Gas-gas yang terkandung pada atmosfer berpengaruh terhadap kehidupan di bumi, seperti berikut:

1.       Nitrogen (N2)

Nitrogen dalam atmosfer sukar bersenyawa dengan unsure lain. Dalam jumlah kecil nitrogen bermanfaat bagi tumbuh-tumbuhan Rhizobium sp yang hidup dalam akar tumbuhan kacang-kacangan dapat mengikat nitrogen  untuk diubah menjadi ammonia (NH2)

2.       Oksigen (O2)

Oksigen sifatnya aktif bersenyawa dengan unsure lain dalam proses oksida. Manfaat oksigen pada makhluk hidup yaitu untuk mengubah makanan menjadi energy.

3.       Karbondioksida (CO2)

Manfaat karbondioksida adalah:

a.       Mengarpsorsi pancaran panas matahari

b.      Sebagai bahan baku untuk membuat karbohidrat dalam proses fotosintesis

Selain nitrogen, oksigen dan karbondioksida, masih terdapat zat lain dalam jumlah kecil, misalnya amoniak, belerang  dioksida dan uap air.

Makin tinggi atmosfer, prosentase zat yang ringan makin besar, seperti uap air (H2O), sedangkan zat yang berat seperti Nitrogen (N2), Oksigen (O2) dan Argon (Ar) makin berkurang.

Untuk mengetahui komposisi gas yang terkandung dalam atmosfer secara terperinci bisa dilihat pada table berikut:

Nama gas Symbol kimia Volume (%)
Nitrogen N2 78,08
Oksigen O2 20,95
Argon Ar 0,93
Karbondioksida CO2 0,034
Neon Ne 0,0018
Helium He 0,052
Ozon O3 0,0006
Hydrogen H2 0,00005
Krypton Kr 0,00011
Metana CH4 0,00015
Xenon Xe Sangat kecil

(sumber: Susilo P, 1993)

Berdasarkan table tersebut terlihat bahwa gas nitrogen merupakan gas yang paling banyak terdapat dalam atmosfera bumi. Salah satu sumber gas nitrogen adalah dari pembakaran sisa-sisa pertanian dan akibat letusan gunung api. Gas lain yang juga cukup banyak terkandung dalam atmosfer adalah oksigen, yang dihasilkan terutama melalui proses fotosintesis pada tumbuhan yang berdaun hijau.

Ozon merupakan salah satu gas yang dalam atmosfer jumlahnya sangat sedikit, namun sangat berguna bagi kehidupan di bumi, karena ozonlah yang menyerap sinar ultraviolet yang dipancarkan sinar matahari, sehingga jumlahnya sudah sangat berkurang ketika sampai dipermukaan bumi. Seandainya radiasi ultraviolet ini tidak terserap oleh ozon, pada saat tiba di bumi sinar ini akan menimbulkan malapetaka bagi kehidupan makhluk yang ada di bumi karena dapat membakar kulit makhluk hidup, memecahkan kulit pembuluh darah, menyebabkan penyakit kanker kulit dan efek-efek lainnya. Sedangkan dalam jumlah yang sedikit, sinar ultraviolet ini sangat membantu tumbuh-tumbuhan dalam proses fotosintesis, dan bagi manusia membentuk vitamin D dalam tubuh. Gas ozon banyak terdapat pada ketinggian sekitar 15-35 Kilometer diatas permukaan bumi, tepatnya pada lapisan stratosfer.

Sumber

1.       Harmanto Gatot (2008): Geografi Bilingual untuk SMA/MA kelas X; penerbityramawidya; Bandung.

2.       Ruhimat Mamat dkk (2000); panduan menguasai geografi; Ganeca Exact; Bandung

Kelembapan Udara

Maret 18, 2011

Kelembaban udara adalah kandungan uap air dalam massa udara. Kelembaban udara dibedakan atas:

1.       Kelembaban Spesifik

Adalah banyaknya uap air yang terkandung dalam 1 kilo gram udara.

Contoh:

Dalam 1 kilogram massa udara terkandung uap air sebanyak 12 gram. Maka dikatakan bahwa kelembaban spesifik udara tersebut adalah 12 gram/kg

2.       Kelembaban Absolut/ Densitas uap air dalam udara

Yaitu banyaknya uap air dalam setiap unit volume udara.

Contoh:

Dalam 1 meter kubik udara terdapat uap air sebanyak 12 gram. Maka dikatakan bahwa kelembaban absolute udara tersebut ialah 12 gram/m3.

3.       Kelembaban Relatif/ Kelembaban Nisbi

Kelembaban nisbi (RH) mempunyai dua pengertian, yaitu:

a.       Perbandingan jumlah uap air yang ada secara nyata (actual) dengan jumlah uap air maksimum yang mampu dikandung oleh setiap unit volume udara dalam suhu yang sama.

Contoh:

Dalam suhu 200C, kemampuan maksimum udara menampung uap air adalah 25 gr/m3. Berdasarkan hasil pengukuran secara langsung, diketahui kandungan uap air dalam udara adalah 20 gr/m3. Untuk mencari kelembaban nisbinya digunakan rumus:

RH =  e/E x 100%

RH =  20/25 x 100%

RH = 80 %

RH = kelembapan nisbi dalam persen

e    = kandungan uap air hasil pengukuran secara langsung

E    = kemampuan maksimal udara dapat menampung uap air

b.      Banyaknya tekanan uap yang ada secara nyata (actual) dengan tekanan uap maksimum pada suhu yang sama.

Contoh:

Tekanan uap maksimum pada suhu 150 adalah 1.000 mb (E), sedangkan tekanan uap hasil pengukuran (e) adalah 800 mb, maka kelembaban nisbi di daerah itu adalah;

RH = e/E x 100% = 800/1000 x 100% = 80%

Kelembapan relative diukur dengan alat yang disebut Higrometer atau Psychrometer Asmann.

Berdasarkan ketiga macam kelembapan udara tersebut, yang erat kaitannya dengan keadaan cuaca disuatu tempat adalah kelembapan relative. Jika kelembapan relative udara kurang dari 100%, maka massa udara dikatakan belum jenuh, sedangkan apabila kelembapan relative ini telah mencapai 100%  maka massa udaradikatakan jenuh, artinya sudah tidak mampu lagi menampung uap air.

GEJALA OPTIK DI ATMOSFER

Maret 30, 2010

Setelah hujan turun biasanya terjadi gejala optic yang dapat dilihat di angkasa seperti pelangi, halo dan aurora.

1. PELANGI

Apabila setelah turun hujan, udara kembali cerah dan sinar matahari dapat sampai di permukaan bumi, sering kita lihat adanya pelangi, dengan berbagai busur warna di udara yang lebih kita kenal dengan sebutan MEJIKUHIBINIU yaitu: merah, jingga (orange), kuning, hijau, biru, nila (indigo) dan ungu (violet).

Pelangi terjadi karena sinar matahari jatuh pada titik-titik air hujan, yang mengakibatkan berkas sinar matahari tersebut dibiaskan dan dipantulkan menjadi spectrum warna (spectrum radiasi) oleh titik air hujan.

Tampak pada gambar:

2. HALO

Halo adalah lingkaran sinar putih disekeliling bulan atau matahari, namun yang sering kita lihat adalah halo bulan karena pada waktu malam langit terihat gelap. Halo sangat jelas terlihat ketika bulan bersinar terang setelah sore herinya terjadi hujan.

Halo terjadi karena sinar bulan menembus Kristal-kristal es yang terdapat pada awan yang tinggi (6.000 – 12.000 m diatas permukaan air laut) seperti awan Cirrus, Cirrostratus dan Cirrocumulus, sehingga sinar bulan dibiaskan oleh Kristal-kristal as tersebut.

Tampak pada gambar:

Halo Matahari

Halo Bulan

3. AURORA

Yaitu cahaya yang bersinar pada malam hari di langit sekitar wilayah lingkaran kutub (cahaya kutub). Aurora yang bersinar di kutub utara dinamakan AURORA BOREALIS, sedangkan yang bersinar di kutub selatan dinamakan AURORA AUSTRALIS.

Proses aurora terjadi di lapisan  IONOSFERA (termosfera bagian bawah) sebagai akibat pengobaran (pemijaran) ion-ion yang bermuatan listrik oleh partikel-partikel radiasi matahari yang memiliki energy sangat tinggi, sehingga dari bumi tampak sebagai cahaya kutub.

Tampak pada gambar:

Aurora Borealis

Aurora Australis

AWAN

Maret 30, 2010

Awan adalah masa udara di permukaan bumi yang mengandung uap air, karena terjadi evapotranspirasi (penguapan yang terjadi karena pemanasan sinar matahari terhadap daerah perairan dan tumbuhan, bergerak naik ke atas). Karena kenaikan ketinggian ini suhunya mengalami penurunan.

Sampai ketinggian tertentu, akibat penurunan suhu ini, nilai tekanan uap menjadi maksimum sama dengan nilai tekanan uap yang ada (actual), sehingga nilai kelembaban relatifnya mencapai 100%, dan udara tersebut menjadi JENUH.


Akibatnya terjadilah proses kondensasi atau pengembunan dimana uap air yang dikandung oleh udara tersebut berubah menjadi titik-titik air. Kumpulan titik air itu dinamakan AWAN. Sedangkan ketinggian dimana uap air berkondensasi disebut BATAS TINGGI KONDENSASI.

Dilihat dari bentuknya:

1. AWAN CIRRUS

Awan yang berbentuk halus seperti kapas

2. AWAN CUMMULUS

Awan yang berbentuk bergumpal-gumpal menyerupai bulu domba

3. AWAN STRATUS

Awan yang berbentuk berlapis-lapis

Nama-nama awan yang lainnya merupakan kombinasi dari ketiga jenis awan tersebut. Misalkan awan cirrostratus, yaitu awan cirrus yang berlapis-lapis. Awan stratocumulus, yaitu awan cumulus yang berlapis-lapis.

contoh awan cirrostratus

contoh awan stratocummulus

Jika suatu jenis awan banyak mengandung uap air sehingga besar kemungkinan menimbulkan hujan maka dalam penamaannya ditambah dengan kata NIMBO  atau  NIMBUS, seperti cumulonimbus dan nimbostratus.

Berdasarkan ketinggiannya:

1. AWAN TINGGI

Awan yang terletak pada ketinggian  antara 6.000 – 12.000 meter diatas permukaan air laut. Contoh:  cirrus, cirrostratus dan cirrocumulus

2. AWAN PERTENGAHAN (MEDIUM)

Awan yang terletak pada ketinggian antara 2.000 – 6.000 meter diatas permukaan air laut. Contoh: altostratus dan altocumulus

contoh gambar altocummulus

3. AWAN RENDAH

Awan yang terletak pada ketinggian kurang dari 2.000 meter diatas permukaan air laut. Contoh: cumulus, stratus, cumulonimbus, nimbostratus dan stratocumulus.

4. KABUT atau FOG

Apabila awan (kumpulan titik-titik air) ini sangat dekat dengan permukaan bumi.

Lapisan Atmosfer Bumi

Januari 12, 2010

LAPISAN ATMOSFER

 

  1. a. Lapisan troposfer:

Adalah lapisan atmosfer yang paling bawah dekat dengan permukaan bumi, dengan ketebalan lapisan/ ketinggian yang berbeda-beda. Ketinggian lapisan troposfer di daerah equator mencapai 16 km, di daerah lintang sedang kurang lebih 11 km, sedangkan di daerah kutub hanya mencapai 9 km. Ketinggian rata-rata lapisan troposfer adalah 12 km. Temperature mencapai 570 C – 620 C, dengan setiap kenaikan 100m temperature turun berkisar 0,50 C – 0,60 C. Pada daerah troposfer banyak terdapat fenomena yang berhubungan dengan cuaca dan iklim seperti awan, hujan, badai, angin, petir, dan gangguan iklim/ cuaca lainnya. Pesawat komersil untuk angkutan penumpang hanya terbang pada troposfer, sedangkan pesawat jet yang biasanya untuk kepentingan perang dapat terbang diluar troposfer. Batas (mintikat) yang menandai berakhirnya penurunan suhu disebut tropopause

  1. b. Lapisan stratosfer:

Adalah lapisan diatas troposfer dengan ketebalan 12-50 km, di kutub lebih tebal dibandingkan di katulistiwa, terkadang di katulistiwa tidak terdapat lapisan ini. Temperature semakin naik semakin meningkat hingga mencapai 550 C. terbagi menjadi dua macam lapisan: lapisan isotherm (20-35 km), yaitu lapisan yang mempunyai penyebaran suhu vertical kurang lebih sama. Lapisan ozon/ lapisan panas (35-50km), yaitu lapisan yng dapat Manahan pengaruh sinar ultraviolet yang sangat kuat.batas berakhirnya stratosfer adalah stratopause

  1. c. Lapisan mesosfer:

Adalah lapisan diatas stratosfer pada ketinggian 50-80 km. pada lapisan stratosfer awalnya temperature naik tetapi kemudian menurun hingga mencapai -720 C. setiap naik 100m suhu turun 0,40 C. benda-benda angkasa seperti meteor  yang akan jatuh ke bumi, pada lapisan ini akan terbakar dan terurai. Batas yang menandai berakhirnya lapisan ini disebut mesopause.

  1. d. Lapisan Ionosfer:

Memiliki ketinggian berkisar 80-375 km. temperature pada lapisan ini kembali naik bisa mencapai 10100 C. pada lapisan terbawah lapisan ini terdapat lapisan Inosfer, gas-gas mengalami ionisasi dan lapisan ini berguna dalam menangkap gelombang radio.

  1. e. Lapisan Eksosfer:

Adalah lapisan  paling luar dari lapisan atmosfer yang batasnya tidak jelas.  Pengaruh gaya berat pada lapisan ini sangat kecil sehingga benturan-benturan di udara jarang terjadi. Lapisan ini berada pada ketinggian antara 500 km dan 1000 km. Butiran-butiran gas pada lapisan ini berangsur-angsur meloloskan diri ke angkasa luar sehingga lapisan ini juga dinamakan DISSIPASISFIR.